Unsika Membangun

tahun 2008 – 2009 ini UNSIKA sedang terus meningkatkan pembangunan fasilitas Gedung perkantoran dan ruang perkuliahan, setelah dinyatakan membuka beberapa program studi baru intensitas kinerja dan optimalisasi sumber daya terus dilakukan, salah satunya dengan menambah bangunan 4 lantai yang masih dalam tahap kontruksi, mudah-mudahan dapat terealisasi dalam 2 tahun mendatang dan dipastikan akan sangat representatif.

program studi baru yang dibuka pada tahun 2009 ini antara lain, Teknik Informatika, jurusan Bahasa Inggris dan Matematika untuk Fakultas Keguruan, juga jurusan S-1 AKUNTANSI untuk fakultas Ekonomi, dengan semakin bertambahnya jumlah program studi diharapkan akan dapat meningkatkan jumlah mahasiswa yang kuliah di UNSIKA, terlebih lagi ini akan meningkatkan kualitas masyarakat Karawang.

Semoga UNSIKA akan tetap jaya dan terus menjadi yang terdepan.

Nasib Anak Jalanan

Michael Todaro Mengatakan bahwa ” Ciri negara berkembang salah satunya ditunjukkan dengan semakin banyaknya kawasan kumuh dan gelandangan di perkotaan” nah di Indonesia ini tampaknya pemandangan itu sudah biasa, bahkan ada satu kampung di tanah jawa yang semua penduduknya bermata pencaharian sebagai Gelandangan dan Pengemis atau disingkat “Gepeng”.

Karawang salah satu kota yang menjadi sasaran urban para keluarga yang memang sengaja mengais rejeki dengan cara seperti itu, pada suatu malam (sekitar jam 23.00) saya menemukan seorang anak balita (berusia sekira 4 tahun) sedang mengamen di pintu perlintasan kereta api di jalur Kota, sungguh menyedihkan jika saja memikirkan nasib mereka dimasa depan, mereka menjadi korban dari ketimpangan ekonomi dan pembangunan daerah sehingga terpaksa menjadi pengamen jalanan

Apa yang harus dilakukan oleh pemerintah dan kita sebagai warga masyarakat, membiarkan semua ini terus terjadi sehingga generasi muda yang akan datang menjadi beban yang berat bagi pembangunan, atau mengambil alternatif pilihan untuk menghentikan praktek seperti ini dengan cara pemberdayaan dan pendidikan ? semestinya pemerintah memiliki cara-cara yang lebih arif untuk menuntaskan persoalan ini secara komprehensif

Produktivitas Pertanian di Karawang

Perlukah Industrialisasi di Sektor Pertanian ?

Pertanian di Kabupaten Karawang yang selama ini masih dinilai kurang menunjukkan perkembangan yang lebih baik, artinya produktivitas pertanian masih rendah jika dibandingkan dengan sektor lainnya, hal ini menyebabkan kebutuhan pengadaan pangan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional tidak jarang pula menjadi terhambat bahkan tidak mencukupi, beberapa kasus yang menunjukkan bagaimana pemerintah mengambil kebijakan impor beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

rontok padi

sumber Photo : Tempo Interaktif 

Lihat saja pola konvensional yang masih dijalankankan oleh petani, pada saat perontokkan gabah ketika panen umumnya petani masih memakai pola konvensional dengan sistem “gebot” sementara teknologi belum diterapkan, padahal berdasarkan pengalaman di ketahui bahwa cara ini cenderung menyebabkan kehilangan gabah sebesar 20 persen tiap hektar terjadi pada saat proses perontokkan. Hal ini sebenarnya dapat di antisipasi jika masyarakat mulai menerapkan teknologi sederhana dalam upaya meminimalisir tingkat kehilangan gabah pada saat proses perontokan

 

 

Waspadai Banjir di Awal Tahun 2008

Tampaknya Karawang harus ekstra hati-hati menghadapi musim penghujan di akhir tahun 2007 dan awal tahun 2008, berdasarkan pengalaman biasanya banjir yang terjadi di Karawang selalu pada menjelang tahun baru atau awal tahun, ini seperti menjadi “agenda tetap” banjir tahunan yang melanda pemukiman sepanjang aliran sungai Cibe’et dan Citarum.

Tampaknya selama ini kita masih disibukkan dengan rencana pengamanan dan evakuasi korban banjir, dan beberapa simulasi dalam rangka menghadapi kemungkinan banjir setidaknya telah dilaksanakan, bahkan di bentuk team evakuasi dan para relawan dari berbagai organisasi untuk ikut terjun menyelamatkan dan membantu para korban banjir, tetapi hingga saat ini upaya untuk mencegah terjadinya banjir masih jarang di lakukan, seperti misalnya sosialisasi bagaimana menjadikan hutan di hulu sungai dan sekitar hutan tidak gundul dengan program penanaman kembali hutan, atau upaya untuk tidak menjadikan daerah resapan air sebagai objek pembangunan pemukiman dan bisnis, hal yang paling sederhana adalah membiasakan masyarakat untuk mulai menyadari pentingnya membuat resapan air di halaman rumah dan menjaga kali tetap berfungsi atau tindakan lain yang secara komprehensif bisa mencegah datangnya banjir.

Karawang adalah jalur yang rawan terjadi banjir, karena terdapat dua aliran sungai besar yang melintang yaitu Cibe’et dan Citarum, sementara di hulu sungai dan beberapa anak sungai yang mengalirkan air dari hutan dan pegunungan sedikitnya telah berkurang atau bahkan beralih fungsi, kemudian di daerah hilir sungai yang terkadang dijadikan objek penggalian pasir yang mengakibatkan terjadinya pendangkalan sungai, seperti yang terjadi di Desa Telukbuyung Kecamatan Pakisjaya Karawang, dimana sungai Citarum menjadi semakin lebar karena terjadi longsoran tanah darat yang disebabkan oleh aktivitas penyedotan pasir yang hingga saat ini tetap berlangsung, diperkirakan telah terjadi pendangkalan dasar sungai di daerah ini, dampaknya apabila debit air bertambah sementara di bagian hilir terjadi pendangkalan bukan tidak mungkin air akan meluap dan menjebolkan kembali tanggul di sepanjang sungai seperti yang terjadi pada banjir tahun 2007 yang lalu.

Jadi mulai dari sekarang kita harus lebih waspada…….persiapkan diri kita dan keluarga untuk menyelamatkan diri dan harta benda dari ancaman banjir yang bukan tidak mungkin akan lebih parah dari tahun sebelumnya…….

MENGAPA LAHAN PEKARANGAN SEBAGIAN BESAR MASYARAKAT DI KARAWANG TIDAK PRODUKTIF ?

Masyarakat Jakarta mulai keranjingan hobi memanfaatkan lahan pekarangan untuk ditanami sayuran dan tanaman lain yang dapat menghasilkan uang, berbagai model dan teknik penanaman di kembangkan demikian juga dengan banyaknya tulisan yang mengulas tentang bagaimana lahan dapat menjadi lebih produktif, mulai dari teknik vertikultur sampai dengan metode hidroponik pun mulai digemari.

 

Wajar saja jika warga Jakarta mulai mengembangkan budidaya tanaman dengan cara seperti itu karena semakin terbatasnya lahan pertanian, bayangkan saja untuk mengolah pertanian dengan teknik konvensional paling tidak dibutuhkan luas lahan ribuan meter bahkan hektaran, Warga Jakarta tidak memiliki lahan seluas itu, selain itu paradigma berfikir warga yang berkembang jauh lebih baik untuk menciptakan beragam inovasi.

 

Lain di Jakarta tentu lain pula di Karawang, luas lahan pekarangan penduduk di karawang khususnya di pedesaan terhitung cukup luas jika dibandingkan dengan kebanyakan perumahan di perkotaan, namun luas lahan pekarangan tersebut umumnya tidak menghasilkan apa-apa alias tidak produktif, kebanyakan warga bercocok tanam dengan cara konvensional sehingga membutuhkan lahan yang cukup luas, namun sayangnya produksi pertanian dan perkebunannya relative belum mampu menjadi unggulan karena kualitas produk yang rendah sebagai akibat dari perawatan yang tidak optimal.

 

Ketergantungan warga terhadap lahan yang luas untuk bercocok tanam menjadi persoalan, pengetahuan untuk menggunakan metode penanaman dengan teknik modern pun belum mereka kuasai sehingga banyak diantaranya yang kemudian tidak dapat menjalankan usaha bertani karena factor keterbatasan lahan dan pola konvensional yang mereka kuasai.

 

Dalam sebuah tulisan yang di terbitkan Harian Kompas yang diperoleh dari situs http://www.kompas.com yang ditulis Oleh Dr. ROCHAJAT HARUN menyatakan bahwa perlunya menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang (enabling). Di sini titik tolaknya adalah pengenalan bahwa setiap manusia, setiap masyarakat, memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya itu untuk mendorong (encourage), memotivasi, dan membangkitkan kesadaran (awareness) akan potensi yang dimilikinya serta berupaya untuk mengembangkannya.

“Vertikultur adalah cara pertanian yang hemat lahan. Sangat cocok diterapkan di daerah permukiman padat,”  kata Edi Junaedi, pemerhati masalah pertanian kota dari Konphalindo (Konsorsium Nasional untuk Pelestarian Alam dan Hutan Indonesia).

Dalam satu kesempatan berbincang dengan seorang kawan dari daerah Selatan Karawang yaitu Kecamatan Tegalwaru, seorang aktivis lingkungan hidup yang juga gemar mengembangkan sektor pertanian dan lingkungan Ahmad Rakhmat, SE seorang pendiri organisasi lingkungan hidup “Oepas Korak” yang berkiprah untuk mengembangkan daerahnya yang memang memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar. Kenyataan bahwa sektor pertanian menurutnya memang belum mendapatkan perhatian yang serius, dalam artian bahwa perkembangannya khususnya di daerahnya pengelolaan sektor pertanian masih bersifat konvensional, hal ini terlalu rawan dengan kondisi alam di Tegalwaru yang kebanyakan masih hutan, jika saja warga tetap beranggapan bahwa untuk bercocok tanam dibutuhkan laha yang luas, maka dampaknya pasti akan membuka lahan baru dihutan, dan ini berakibat pada kerusakan hutan tersebut, jadi alangkah lebih baik jika dilakukan upaya untuk mengembangkan teknik pertanian modern untuk mengantisipasi munculnya kerusakan tersebut.

 

Lain lagi dengan pendapat kawan dari Kecamatan Telukjambe Edi Yusuf Sugianto, SE yang sekarang ini sedang tertarik untuk mengembangkan pertanian dengan metode Vertikultur, keterbatasan lahan pertanian yang menggugah keinginannya untuk mengembangkan metode tersebut, kesibukannya sebagai pengelola Program Kegiatan Belajar Masyarakat “Bina Sejahtera” Telukjambe Timur memberikan inspirasi untuk mengikutsertakan pula siswa belajar dalam kegiatan pertanian, ini akan memberikan tambahan wawasan dan keterampilan serta kecakapan hidup bagi para siswa, sehingga diharapkan mereka akan mengembangkan usaha pertanian yang lebih berkualitas dikemudian hari.

 

Pada bulan Juni 2007 lalu koresponden dari Jepang Prof Dr. Kenichiro Arai mengirimkan artikel mengenai teknik pertanian Jepang yang modern, saya memintanya untuk dapat dijadikan sebagai tambahan pengetahuan saya yang mungkin menjadi bahan untuk dikembangkan di Karawang, Warga Jepang memang telah mengembangkan teknik tersebut sejak dulu, mereka lebih banyak menggunakan metode hidroponik atau vertikultur dan metode lainnya untuk menanam sayuran dan buah-buahan, hal ini dilakukan karena keterbatasan lahan pertanian di Jepang sehingga teknik ini berkembang dengan baik.

 

Lalu mengapa teknik pertanian dengan metode tersebut sangat jarang dikembangkan di Karawang ?, persoalannya mungkin karena luas lahan pertanian di Karawang masih cukup luas, atau mungkin karena teknik tersebut belum dikuasai oleh warga, jika saja lahan pekarangan rumah dapat dimanfaatkan oleh warga masyarakat, tentunya luas lahan pertanian dan perkebunan yang adapun dapat dimanfaatkan lebih optimal lagi, tidak seperti sekarang ini dimana lahan pertanian dan perkebunan masih relatif kurang produktivitasnya.

 

Mungkin anda mempunyai pendapat yang sama dengan saya mengenai hal ini.