POTENSI PARIWISATA, SENI DAN BUDAYA

Budi Rismayadi

Kabupaten Karawang memiliki lokasi wisata yang cukup banyak, bahkan terdapat objek wisata sejarah dan Budaya yang tidak dimiliki oleh Kabupaten lainnya, beberapa objek wisata sudah mulai dikembangkan, karena ini merupakan sebuah asset yang luar biasa dan diharapkan mampu memberikan sumbangan bagi pendapatan daerah dari sector pariwisata.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karawang tengah berupaya menyusun rencana pengembangan objek wisata agar mampu tumbuh dan diantaranya mampu memberikan sumbangan bagi pembangunan daerah, hal ini tentunya membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit mengingat lokasi wisata di Karawang bisa dikatakan belum sepenuhnya dikelola, selain itu minat masyarakat setempat untuk menjadikan objek wisata ini menjadi pilihan berlibur masih relative kecil.

Pengunjung luar kota yang datang mengunjungi objek wisata ini pun terbilang masih belum banyak, dan biasanya hanya terjadi pada waktu tertentu misalnya pada saat liburan hari raya dan tahun baru dimana pengunjung cukup banyak.

Akses informasi yang terbatas tentang keberadaan objek wisata tentu saja menjadi salah satu kendala bagi upaya pengembangan sector tersebut, pemerintah Daerah Karawang belum dapat memperluas jaringan informasi kepada masyarakat secara luas sehingga keberadaan objek wisata itu sendiri belum banyak diketahui.Peran serta masyarakat dalam mempublikasikan objek wisata Karawang (citizen Journalism) perlu dikembangkan disamping peran pemerintah yang tentunya jauh lebih penting.

Dalam salah satu Blogyang banyak menyoroti tentang pembangunan di Kabupaten Karawang penulis Eka Priadi Kusumah (2011) menyatakan “Dalam era dimana media informasi semakin maju, dan kegiatan masyarakat dalam system informasi digital (blog, social networking, dan lain-lain) semakin padu dan menjadi rutinitas dalam aktivitas sehari-hari, maka ini menjadi peluang dan kesempatan untuk melibatkan komponen masyarakat dalam ruang on line untuk turut serta dalam mempromosikan dan mensosialisasikan potensi wisata, seni dan budaya karawang”.

Hadirnya komunitas online di Kabupaten Karawang telah memberikan cukup banyak sumbangsih dan peran dalam memajukan pembangunan daerah, kebanyakan dari mereka secara sukarela menyusun naskah dan pemberitaan seputar pembangunan di Kabupaten Karawang dengan didasari oleh keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi pembangunan daerah, dan ini menjadi salah satu potensi pemberdayaan masyarakat yang berdampak positif bagi pemerintah dan masyarakat secara luas sehingga pembangunan yang lebih baik dapat dicapai dengan melibatkan peran serta seluruh komponen masyarakat dan pemerintah.

Persoalan publikasi dari potensi sumber daya wisata di Karawang yang relative masih belum banyak memang menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan program pembangunan daerah, hal ini tampaknya belum menjadi skala prioritas bagi pembangunan daerah secara menyeluruh, bisa jadi persoalan tersebut karena alasan pertimbangan dari berbagai sector pendukung yang dinilai masih belum sesuai dengan kebutuhan.

Misalnya saja muncul permasalahan dari Pengelolaan objek wisata yangcenderung menjadi sorotan masyarakat luas, yaitu kondisi infrastruktur jalan yang dinilai kurang mendukung sehingga pengunjung sering menyatakan keluhan dan menunjukkan sikap merasa tidak puas dengan apa yang mereka peroleh setelah mengunjungi objek wisata di Kabupaten Karawang.

Pada tulisan lain yang disampaikan Eka Priadi Kusumah untuk menyikapi bahwa demikian pentingnya membangun dan memelihara budaya dan tradisi  di Karawang disamping asimilasi budaya modern yang berkembang demikian pesat dituliskan sebagai berikut “Tidak dapat dipungkiri bahwasannya perkembangan teknologi dan informasi yang begitu pesat, telah jauh meninggalkan  ranah pemikiran “tradisional” dan kolot, akan tetapi mempertahankan seni dan budaya dalam kekinian menjadi tantangan tersendiri ketika pesan-pesan moral yang telah kering dalam perikehidupan menjadi oase yang akan mampu menjawab tantangan dalam membangun karawang menuju yang lebih baik”.

lihat web Eka Priadi Kusumah

Lembaga Pemerintah Daerah Karawang

Lebih banyak dari kita seringkali menganggap bahwa konsep pembangunan di Kabupaten Karawang itu dapat lebih disederhanakan, bahkan terkesan relative mudah untuk dilaksanakan, sementara itu persoalan lain yang berhubungan dengan realitas dalam pembangunan demikian nyata menunjukkan problematika bekepanjangan dimana terdapat ketidak sesuaian antara apa yang telah direncanakan dengan capaian dari kegiatan yang dilaksanakan.

Konsep pembangunan yang selama ini dilaksanakan di banyak Kabupaten termasuk Kabupaten Karawang menunjukkan bahwa pertaruhan nilai profesionalisme dan intelektualisme menjadi indicator keberhasilan manajemen pemerintahan dalam menjawab berbagai persoalan yang berkembang, menginventarisir masalah yang acapkali berulang pada persoalan yang sama dan semakin menjadi masalah klise yang belum bisa diminimalisasi meskipun berbagai sumber daya yang ada telah dimanfaatkan.

Kurang tertatanya system manajemen dalam organisasi pemerintahan di Kabupaten Bisa menjadi salah satu factor utama yang menyebabkan lambatnya pembangunan daerah, pergelutan kepentingan politik di daerah juga terkadang menghiasi dinamika pembangunan daerah dan ini menjadi salah satu pemandangan yang sudah sangat biasa kita saksikan sehingga masyarakat di daerah sudah sangat akrab dan seperti mampu menebak kondisi akhir yang akan terjadi yaitu anggapan bahwa mereka kembali akan menyaksikan munculnya sebuah persoalan baru dengan jilid yang berbeda.

Permasalahan demi permasalahan datang silih berganti, dan ini merupakan sebuah supplement bagi Kabupaten Karawang untuk lebih mampu melindungi dirinya dengan lebih baik, mampu bertahan dalam kondisi kritis dan memiliki tingkat kepekaan yang dalam terhadap situasi, berarti sebuah tuntutan untuk merubah pola manajemen pemerintahan yang mengarah pada upaya terciptanya “good governance” dan yang akan mengarah pada “good civilitation” dan ini berarti akan mengawali perubahan babak baru dalam kehidupan masyarakat yang jauh lebih baik dibandingkan dengan kondisi saat ini.

Kondisi seperti itu dapat dijalankan dan tentunya akan sangat bergantung pada seberapa besar keinginan pemerintah Karawang untuk membuat perubahan radikal dalam system organisasi pemerintahan dengan menerapkan berbagai kebijakan yang lebih konsisten dan lebih nyata, melakukan perbaikan kelembagaan dan peningkatan sumber daya manusia, bukan hanya sebuah tindakan dari proses perubahan gradual yang relative tidak berkesinambungan dan insidentil semata sehingga tidak jarang hanya akan membuat persoalan tidak pernah selesai karena solusi yang diharapkan tidak pernah ditemukan.

Berarti semua perubahan kearah yang lebih baik itu hanya mungkin akan terjadi apabila terdapat keselarasan visi dan misi yang sinergis dari semua pemegang kebijakan pembangunan daerah untuk kepentingan yang jauh lebih besar dari sekedar perhelatan dan perdebatan politik yang digelar diruang sidang, kesepahaman yang konsisten dan mengedepankan kepentingan masyarakat Karawang secara luas dan tentunya akan menjadi tolok ukur bagi proses peningkatan pembangunan daerah, memberikan rangsangan bagi pelaku ekonomi yang dapat memiliki nilai tambah bagi pembangunan daerah disamping bersama-sama untuk melaksanakan pengawasan terpadu, ketat dan akurat.

Perbedaan persepsi dan pandangan mengenai konsep pembangunan merupakan hal yang mungkin terjadi, berbagai factor dan pandangan ilmiah setiap orang berbeda, dan tentu saja ini menjadi sebuah dinamika yang terjadi tanpa bisa dihindari keberadaannya, tinggal bagaimana upaya untuk mempersatukan perbedaan pemikiran, persepsi dan konsep pembangunan itu dalam kondisi yang dinamis dan lebih mengarah pada upaya untuk percepatan pembangunan di Karawang dengan akselerasi seluruh komponen pembangunan itu sendiri.

Rangsangan terhadap optimalisasi agen pertumbuhan ekonomi di daerah yang tidak jarang menuai banyak pandangan kontroversi dan kontraproduktif dari sisi kepentingan politik sebagian golongan, dan hal ini seringkali pula berbuah pada perubahan kebijakan pembangunan ekonomi daerah yang dilaksanakan oleh pemangku jabatan yang memiliki kompetensi di bidangnya.Sementara itu waktu yang terus bergerak tidak lantas menunjukkan peningkatan perkembangan menuju arah yang lebih baik, selain memberikan tanggungjawab pengelolaan yang sebenarnya belum tuntas dari pengelola sebelumnya.

Langkah yang dianggap tepat untuk dapat menyusun rencana perubahan pembangunan di Kabupaten Karawang seharusnya dapat turut serta melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan dalam pembangunan ekonomi dan ini membutuhkan keseriusan dan kerja keras yang didasari oleh kesadaran untuk membuat perubahan kearah yang lebih baik, menciptakan iklim pembangunan yang kondusif dan jaminan keberlanjutan pembangunan tanpa menimbulkan efek politis dan social yang memicu terjadinya permasalahan baru dimasyarakat.

Seperti halnya perlu disikapi mengenai terjadinya perubahan pembangunan ekonomi khususnya berkaitan dengan pelaku pasar di Kabupaten Karawang yang mengalami pergeseran konsep dimana pertumbuhan pasar modern cenderung mulai mendominasi perekonomian dan berdampak pada munculnya persoalan yang dihadapi kebanyakan pelaku pasar tradisional, mereka menghadapi kondisi yang sulit dan nyaris terpuruk, hal ini sudah mulai terjadi dan menjadi persoalan lain yang harus dihadapi oleh pemerintah daerah, terlebih lagi data di banyak daerah menyajikan informasi bahwa rata-rata pasar modern yang tumbuh diperkotaan cenderung memiliki masalah yang cukup besar terutama berkaitan dengan perizinan, tentu saja ini harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah untuk menjaga agar perubahan konsep pembangunan daerah tidak lantas mengorbankan pelaku ekonomi lainnya.

Persoalan yang muncul dalam pembangunan ekonomi di kebanyakan daerah dijelaskan oleh Prof. Dr Tumari Jatileksono (2011) bahwa mungkin akan terciptanya Contestable Marketyang kemudian memunculkan terbentuknya Dominant Firm dimana perusahaan ini dapat menerapkan pembatasan harga untuk produk tertentu sama dengan yang terdapat di pasar tradisional maka ini akan berdampak pada terciptanya himpitan harga bagi pelaku pasar tradisional, kondisi tersebut dikenal dengan istilah Limit Pricing, artinya pasar tradisional bisa tetap berdiri dalam kondisi tidak bisa berkembang karena harga yang ditawarkan pasar tradisional tidak mungkin mendekati sama dengan harga yang ditawarkan perusahaan tersebut. Kondisi bahkan akan jauh lebih berbahaya ketika perusahaan yang Dominant tersebut memberlakukan strategy Predatory Pricing, yaitu dengan cara menurunkan harga produk hingga sama dengan pasar tradisional, maka dengan sendirinya pasar tradisional akan menghadapi kehancuran.

Pembangunan di daerah tentunya tidak terlepas dari bagaimana memanfaatkan sumber daya dan teknologi yang ada, pada tahap awal pembangunan sector agraria menjadi leading pembangunan yang kemudian ditopang dengan perkembangan teknologi, dan ini menjadi salah satu tujuan pembangunan nasional, namun dalam jangka panjang pembangunan industrialisasi tidak dapat dibendung keberadaannya, akibatnya factor produksi yang ada terus menerus digunakan, dan sekarang dampaknya adalah pemanfatan sumber daya alam yang cenderung kurang bijaksana dan menimbulkan banyak kerusakan yang cukup parah, sedangkan sumber daya alam yang tersedia menghadapi kendala keterbatasan dimana dalam jangka panjang sumber sumber daya tersebut akan berkurang dan tidak dapat diperbaharui kembali.

Pada gilirannya yang banyak menikmati hasil dari penggunaan factor produksi di Karawang adalah para pengusaha industry, sedangkan masyarakat dan pemerintah lebih banyak dirugikan, impor teknologi yang masuk lebih memungkinkan perusahaan produsen barang teknologi menikmati keuntungan yang jauh lebih besar dari pengguna teknologi tersebut, dan sumber daya yang digunakan pun jauh menimbulkan dampak pengrusakan yang hebat ditambah dengan pencemaran yang terjadi dari proses produksi yang dilakukan perusahaan.

Masyarakat secara luas mungkin saja dapat menikmati nilai dari perkembangan industry di Karawang, serapan jumlah tenaga kerja di sector industry yang mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi, meskipun tidak dapat menjawab persoalan tingginya angka pengangguran di Karawang yang setiap tahun terus mengalami peningkatan.

Dengan demikian untuk meningkatkan peran daerah terhadap pertumbuhan ekonomi nasional perlu ikhtiar yang sungguh sungguh dan sistematis melalui penerapan strategi agroindustry berorientasi eksport di tingkat daerah dan strategi promosi eksport Agrobisnis di tingkat pusat (Rum Alim, 2010)

Banyaknya orang orang yang cenderung bersikap menghambat bagi pembangunan daripada mendukung pembangunan, penghambatan itu lebih didasari karena kepentingan perorangan, golongan, kelompok  dan kepentingan politik yang kadangkala tidak dapat mengakomodir kepentingan masyarakat secara keseluruhan, meskipun tentu saja apa yang sering menjadi wacana dikalangan mereka masing-masing merujuk pada upaya bagaimana menawarkan konsep pembangunan yang berpihak kepada sebagian golongan masyarakat saja.

Persoalan lain yang muncul secara teknis adalah bagaimana optimalisasi pengelolaan asset milik pemerintah daerah Karawang yang dianggap belum sepenuhnya dapat dilakukan, seperti informasi yang disampaikan oleh surat kabar Radar Karawang edisi Senin 31 Oktober 2011, bahwa dinas pendapatan dan pengelolaan keuangan dan asset daerah (DPPKAD) yang baru dapat membenahi asset tidak bergerak milik Pemkab dengan sertifikasi 302 bidang tanah, padahal menurut informasi bahwa total dari seluruh asset yang ada mencapai ribuan bidang tanah yang masih terlantar belum dipindahbukukan. Hal ini menurutnya karena kendala jumlah personil yang relative sedikit dan anggaran yang disediakan pemerintah masih rendah.

Anggaran yang dibutuhkan untuk mengamankan asset pemerintah Kabupaten Karawang secara serentak dalam penghitungan DPPKAD pada tahun 2011 mencapai Rp. 266 Miliar, dan apabila cara yang dilakukan sama dengan sebelumnya yaitu menyesuaikan dengan keterbatasan anggaran yang disediakan paling tidak membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, belum lagi kendala personil yang kurang.

Berita Radar pada edisi 9 Desember 2011 tentang pengesahan KUA-PPAS RAPBD 2012 menyampaikan proyeksi anggaran pada tahun 2012 yang dikemukakan oleh Bupati Karawang H. Ade Swara, SH.,MH pada rapat paripurna DPRD Karawang yang mencapai Rp. 1,9 Triliun dan Anggaran Defisit dinyatakan masih menjadi ganjalan dalam upaya pembangunan daerah Karawang.

Dalam kurun waktu 4 tahun Pendapatan Daerah Karawang meningkat cukup pesat, proyeksi anggaran pada tahun 2007 sebesar Rp. 958.660.846.923 naik menjadi sebesar Rp. 1.909.014.931.924

PEMBANGUNAN MASYARAKAT DESA DI KARAWANG

Budi Rismayadi

Dalam bukunya yang berjudul Ekonomika Pembangunan, Irawan dan Suparmoko (1990) menuliskan bahwa “ Penduduk merupakan factor produksi utama yang tersedia di Negara-negara yang relative terbelakang dan juga merupakan factor yang berlebihan. Karena itu mobilisasi dari kekuatan penduduk ini untuk kegiatan dalam bidang ekonomi, social dan kebudayaan akan sangat baik dan dengan cara yang sesuai dengan masyarakat disitu akan menghasilkan suatu kemajuan pesat”.

Dengan demikian potensi jumlah penduduk yang dimiliki suatu daerah hendaknya menjadi satu keunggulan bagi proses pembangunan daerah tersebut, mobilisasi jumlah penduduk dalam lapangan kerja dapat menciptakan pembangunan yang lebih pesat, sementara kondisi kelebihan tenaga kerja yang tidak terserap dilapangan kerja yang tersedia hendaknya dapat dilibatkan dalam pembangunan ekonomi yang didasarkan pada tradisi atau paguyuban dengan menciptakan proyek-proyek pembangunan yang bersifat padat karya dan gotong royong.

Akan tetapi perkembangan paradigm masyarakat yang sedikit demi sedikit mengalami perubahan ketika budaya masyarakat yang mengalami pergeseran dimana nilai-nilai individual telah melunturkan nilai kebersamaan dan mengancam kehidupan social masyarakat yang sebenarnya secara turun temurun telah terpelihara, hal ini tentunya menjadi persoalan dimana sebagian masyarakat mulai berorientasi pada materi dan kekayaan untuk menjalankan aktivitas kehidupannya.

MEMBANGUN DAYA SAING MERK PRODUK LOKAL

Budi Rismayadi

Pesatnya penetrasi produk dari Cina di pasaran Indonesia dan juga semakin memburuknya kondisi perekonomian Eropa Barat dan Amerika yang ditandai dengan kenaikan nilai tukar dolar yang terjadi beberapa waktu ini seharusnya memberikan harapan besar bagi bangkitnya produk lokal Indonesia terlebih untuk dapat membangun kekuatan branding produk sendiri.

Menciptakan merk lokal yang baik akan mampu meningkatkan daya saing produk dalam negeri ditingkat nasional maupun internasional, semisal beberapa merk produk lokal yang sudah cukup dikenal hingga mampu menembus pasar internasional seperti produk industri rokok, kacang garuda, indomie dan banyak lagi produk lainnya yang sudah mampu membuktikan bahwa produk Indonesia memiliki kesempatan besar untuk bisa bersaing ditingkat nasional dan internasional.

Indonesia merupakan pasar yang sangat besar bagi produsen seluruh dunia, apalagi dengan rata rata tingkat konsumsi yang tinggi dan didukung dengan kemampuan beli yang terus mengalami peningkatan, sehingga bisa dimaklumi jika produk luar negeri seperti dari China, Korea, Jepang dan negara asia lainnya berlomba untuk menguasai pasar Indonesia dan menawarkan berbagai macam produk berkualitas tinggi dengan harga yang relatif lebih terjangkau bahkan hingga produk murah yang mengesampingkan kualitas.

Sangatlah ironis mendapati bahwa produk lokal Indonesia ternyata harus kalah bersaing dengan produk asing dipasaran nasional, ini menjadi persoalan besar bagi kita, bagaimana mungkin produk lokal harus tersisihkan dipasar sendiri ? apa yang menjadi penyebabnya ? apakah masyarakat kita sudah demikian keranjingan dengan produk luar negeri ? dan tentu saja berbagai pertanyaan dan pernyataan akan bermunculan, tapi mampukah semua itu menjawab dan menyelesaikan persoalan itu ?.

Memang beberapa produk Indonesia sudah mampu melakukan penetrasi hingga pasar internasional khususnya untuk produk bahan makanan dan kebutuhan lainnya, bahkan di Malaysia banyak produk Indonesia yang menguasai pasaran baik modern maupun pasar tradisional, namun ini belum secara signifikan mampu merangsang berkembangnya produk produk lokal lainnya untuk masuk dan menguasai pasar internasional.

Kunci utama untuk meningkatkan daya saing pasar produk lokal disamping dengan cara meningkatkan kualitas produk dan menciptakan branding yang lebih baik untuk meningkatkan kepercayaan pasar terhadap produk lokal juga harus dibarengi dengan upaya pemerintah baik pusat maupun daerah agar lebih memfokuskan diri terhadap pembinaan dan pengembangan produk lokal dan memotivasi munculnya inovasi dan pengembangan produk baru yang dilakukan secara terus menerus.

Selain itu perkembangan yang pesat bisnis retail semacam franchise di Indonesia seharusnya menjadi kekuatan dan daya dukung bagi merk produk lokal di pasar nasional, munculnya kesadaran untuk lebih memprioritaskan penjualan merk produk lokal dibandingkan dengan produk luar perlu ada yang berani untuk memulainya dan diikuti oleh pengusaha bisnis waralaba diseluruh Indonesia, sehingga keberadaan bisnis ini tidak terkesan menjadi “predator” bagi pebisnis di pasar tradisional.

Konsep one village, one product yang belakangan ini menjadi target pembangunan daerah yang dicanangkan oleh beberapa kepala daerah di Indonesia merupakan peluang dimana pemerintah sudah menunjukkan upaya dan kepedulian yang besar untuk menggali potensi pengusaha baru dan inovasi baru produk lokal.

Persoalan lainnya adalah keterbatasan informasi yang dapat diakses oleh para pengusaha lokal mengenai bagaimana langkah yang tepat untuk mempertahankan, memellihara dan mengembangkan merk produk yang mereka miliki, jika sudah begitu jangankan untuk menggali, menciptakan dan menemukan produk baru, untuk mengelola produk yang sudah ada saja mereka cukup kewalahan.

 

Pelajari Biaya Kesempatan

Budi Rismayadi

Dalam kehidupan sehari-hari setiap individu selalu membandingkan bagaimana waktu yang sudah mereka lewati dengan seberapa manfaat yang sudah mereka peroleh, dalam kata lain setiap orang akan berusaha mencapai titik dimana kualitas waktu menjadi ukuran keberhasilan aktivitas mereka setiap hari.

Hal yang paling mudah dilakukan untuk mengukur bagaimana manfaat yang diperoleh setiap orang dalam melakukan aktivitas harian mereka tentu saja dengan melihat seberapa tepat mereka bisa membuat sebuah perencanaan yang bisa memberikan tambahan penghasilan, sebut saja seseorang akan lebih menghitung seberapa pendapatan yang mungkin akan mereka peroleh jika mereka memanfaatkan waktu dengan menjual sebuah produk secara online, sementara dalam waktu yang bersamaan dia bekerja sebagai seorang karyawan dalam sebuah perusahaan sambil tidak berhenti menawarkan jasa paruh waktu sepulang bekerja untuk menyelesaikan sebuah proyek kepada rekan kerjanya.

Tidak banyak orang yang mampu mengerjakan berbagai macam pekerjaan seharian, bahkan tentu saja tidak bisa dilakukan oleh orang yang menganggap dirinya seperti superman, waktu membatasi gerak setiap orang untuk menuntaskan setiap pekerjaan, tapi bisa jadi anggapan itu tidak seperti yang dibayangkan dimana seseorang berada dalam dua tempat berbeda pada waktu yang bersamaan, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan telah demikian cepat mengubah wajah dunia ini termasuk cara berfikir setiap orang.

Munculnya pemikiran bahwa setiap orang telah membuang banyak biaya untuk menjalankan kehidupan sehari hari, terlebih karena waktu yang mereka lalui tidak bisa memberikan tambahan nilai yang besar bagi dirinya, bisa dibayangkan seorang mahasiswa yang merelakan waktunya terus berlalu untuk  mendapatkan manfaat tambahan pengetahuan apabila dibandingkan dengan kesempatan yang sudah mereka lewatkan untuk mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang cukup besar.

Jika seorang mahasiswa memilih untuk bekerja dengan penghasilan setidaknyasebesar Rp. 2 juta setiap bulan (angka ini relatif sedikit untuk ukuran penghasilan bekerja di kota besar), maka dalam waktu satu tahun secara sederhana dapat dihitung bahwa mahasiswa itu akan memperoleh penghasilan sebesar Rp. 24 juta dan ini akan mengurangi besarnya biaya yang harus mereka keluarkan untuk membayar biaya kuliah, maka mahasiswa yang bekerja paruh waktu selepas kuliah sebenarnya sedang berusaha untuk meminimalkan kerugian dari biaya kesempatan yang terjadi.

Banyak mahasiswa sekarang ini yang mulai melirik untuk membangun bisnis, banyak teori yang menawarkan bagaimana peluang keberhasilan yang bisa diperoleh dari membangun bisnis modern, namun tidak sedikit mahasiswa yang membangun bisnis konvensional meskipun jatuh bangun dan melewati sembilan puluh sembilan kali kegagalan yang menyedihkan, bahkan tidak sedikit yang mencoba peruntungan dalam bisnis entertainment dan jasa lain yang demikian gemerlap dan dipenuhi impian yang indah.

Sebagian orang yang memilih untuk mulai membangun sebuah usaha tentu memiliki banyak kesempatan dibandingkan dengan orang lain yang memilih untuk melanjutkan studi diperguruan tinggi, meskipun sudah barang tentu kualitas sumber daya manusia diantara mereka pasti akan memperlihatkan perbedaan,  namun akan lebih tepat jika kemudian mulai diperkenalkan bagaimana membangun dunia usaha dikalangan mahasiswa sehingga mereka akan lebih siap untuk melewati masa masa yang akan datang dengan kemampuan mereka menjadi inovator handal yang memberikan kontribusi besar bagi pembangunan nasional.

Mereka yang berfikir marjinal biasanya akan mudah menangkap peluang yang muncul disetiap waktu dan kesempatan yang ada, tidak sedikit mahasiswa yang memiliki keahlian di berbagai bidang dan berusaha memanfaatkan keahlian yang mereka miliki untuk memperoleh tambahan penghasilan, mahasiswa yang menjajakan makanan, menjual buku ajar, bahkan rela menawarkan jasa mencuci pakaian teman temannya, dengan tujuan untuk memperoleh manfaat tambahan penghasilan mereka, ini telah menjadi kisah menarik dan banyak ditulis menjadi sebuah buku tentang keberhasilan dalam membangun sebuah bisnis sampai dengan kisah sukses orang luar biasa yang mengawali usahanya dari sesuatu yang biasa.

Berbicara kembali mengenai biaya kesempatan yang ada disetiap kesempatan memang memerlukan cara khusus yang harus terus menerus dicoba, sehingga setiap orang akan memahami bahwa semua ini bukan semata mata mengenai bagaimana kita menyikapi hidup ini untuk bertaruh mendapatkan uang yang banyak, tetapi lebih kepada upaya apa yang harus kita lakukan untuk dapat memberikan manfaat kepada orang lain, bayangkan jika kita memiliki sumber daya yang demikian melimpah tetapi dibiarkan begitu saja, maka sudah bisa dipastikan tidak akan ada orang yang bisa mencapai harapan mereka untuk hidup sejahtera, dan sumber daya paling melimpah dan selalu terlewatkan dalam diri kita adalah waktu.

Demikian berharganya waktu, karenanya kita bisa membuat sebuah perencanaan besar untuk mengisi perjalanan waktu yang kita lewati dengan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kita semua, memberikan tambahan nilai dan penghasilan yang besar tanpa harus mengorbankan sebagian waktu lain untuk mengerjakan aktivitas rutin, dalam arti bahwa setiap orang bisa dan memiliki kemampuan untuk mengatur bagaimana waktu dimanfaatkan secara optimal.

Dia bisa berada dalam satu tempat untuk mengerjakan pekerjaan intinya, sedangkan dibagian lain bisnis yang dia bangun dengan manajemen yang baik akan menjadi mesin penghasil uang yang cukup efektif, bahkan jika memungkinkan jaringan yang berhasil dia bangun melalui konsep waralaba akan menjadi robot yang tanpa lelah menghasilkan nilai yang cukup besar baginya.

Bagaimana kita mencoba untuk memulai fokus kepada satu hal tentang mempelajari biaya kesempatan yang selalu ada dalam berbagai aktivitas dan mengubahnya menjadi peluang untuk meraihnya menjadi tambahan penghasilan nyata yang bisa memberikan manfaat besar.

Bangkitkan Kembali Bercocok Tanam

Melihat kondisi pertanian dan perkebunan di Kabupaten Karawang beberapa tahun terakhir tampaknya terus mengalami kemunduran, bahkan untuk areal tanah sawah dan ladang saja dinas terkait dari pemerintah daerah sendiri sampai tidak memiliki data valid berapa sebenarnya luas areal sawah dan perkebunan terbaru di Karawang, angka yang selama ini diyakini dan dipercaya disebut-sebut luas areal sawah sekitar 93 ribu hektar, padahal bukan tidak mungkin sebenarnya jumlah itu sudah berkurang, lihat saja dengan semakin banyaknya lahan sawah yang berubah fungsi menjadi pemukiman.

Apakah ini sebuah sinyal bahwa pemerintah daerah sebenarnya sudah tidak lagi memprioritaskan pembangunan sektor pertanian karena dianggap sudah tidak produktif lagi, atau mungkin karena perubahan paradigma masyarakat sendiri yang menganggap bahwa sektor pertanian bukan lagi menjadi matapencaharian utama, tentu saja hal ini harus kita sadari bersama bahwa sebenarnya sebagian besar masyarakat di Karawang masih berada dipedesaan yang sudah jelas mengandalkan sektor pertanian sebagai penghasilan utama mereka, sehingga perlu disampaikan penekanan kepada pemerintah daerah agar membuat sebuah peraturan dan kebijakan untuk melindungi sektor pertanian dari alih fungsi yang merugikan masyarakat petani.

Kemudian kita sendiri sebenarnya menyadari bahwa disekeliling kita masih terdapat lahan-lahan yang tidak dimanfaatkan secara optimal, padahal sebenarnya untuk merawat dan memanfaatkan lahan tersebut tidaklah membutuhkan biaya yang tinggi, ini lebih disebabkan karena kurangnya semangat kita untuk berhemat dan berusaha memenuhi kebutuhan sendiri, perekonomian subsisten sebenarnya dapat diberlakukan dalam kondisi seperti ini, resiko menanam kebutuhan pangan di pekarangan rumah sendiri tidak mengandung resiko besar dalam menghadapi kemungkinan gagal panen

Jika saja sinergitas antara pemerintah dan masyarakat lebih ditingkatkan lagi tentu saja akan lebih mampu menciptakan pembangunan masyarakat yang berkualitas, pemerintah bisa merangsang agar masyarakat memiliki semangat untuk bercocok tanam dilahan sendiri seberapapun luas lahannya untuk keperluan mereka dalam memenuhi kebutuhan pangan, dan merangsang para pengusaha lokal untuk mengembangkan industri pertanian dengan skala yang lebih luas untuk memenuhi kebutuhan pasar, dan ini hanya mungkin terjadi apabila pemerintah memiliki keseriusan untuk membangun sektor pertanian yang lebih baik dan terpadu, serta masyarakat dapat menerima dan melaksanakan program ini dengan penuh semangat.

Mari bankitkan kembali tradisi dan budaya bercocok tanam dilingkungan kita, dengan mencoba menanam satu pohon sayuran dalam kantong plastik atau media lainnya dihalaman rumah hingga berhasil dipanen dan kita akan merayakan keberhasilan itu dengan suka cita, bahwa dari satu hal yang sederhana kita akan memiliki semangat dan mampu menghasilkan yang jauh lebih besar untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan kita, jika bukan kita yang memulainya tidak akan ada orang lain yang akan mencobanya.

Pelatihan Pengemasan Madu Liar di Desa Mekarbuana

Beberapa waktu yang lalu saya menggelar kegiatan pelatihan bagi masyarakat di Desa Mekarbuana untuk meningkatkan potensi sumberdaya yang dimiliki daerah tersebut, dan kali ini saya mencoba untuk menggelar pelatihan bagaimana membuat kemasan produk madu yang memiliki nilai bersaing yang cukup tinggi.
kegiatan pelatihan ini memang merupakan kegiatan lanjutan dari program pelatihan yang digelar oleh LPPM Unsika, sebelumnya saya menggelar kegiatan pelatihan budidaya lebah madu yang hasilnya menghasilkan metode penangkaran lebah liar dikaki gunung sanggabuana dan tentu saja inipun masih terus berlanjut.
melihat sumber daya yang melimpah dan hasil panen madu liar yang diperoleh masyarakat yang cukup besar ini maka saya menganggap perlu memberikan tambahan keahlian kepada masyarakat agar bisa memiliki keterampilan mengemas produk yang mereka hasilkan sehingga bisa bersaing dengan produk lainnya.

informasi mengenai pelatihan ini dapat anda lihat pada liputan berita Koran Radar Karawang 29 Desember 2012 yang lalu dengan judul Masyarakat Mekarbuana dilatih Kemas Madu.

Informasi Bagi Anda yang Bijak

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.