Potret Anak Jalanan

Tanggal 22 November 2007 jam 23.00 malam saya mengabadikan sebuah realita anak jalanan, seorang anak perempuan berusia 9 tahunan saat itu tengah melantunkan lagu yang nadanya pun tidak karuan dipintu perlintasan kereta api karawang kota, saya perhatikan dengan seksama, anak kecil yang bergelut dengan kenyataan bahwa mereka dengan sangat terpaksa bergulat dengan kerasnya kehidupan di Karawang.

Poto ini kemudian muncul kembali dan mengingatkan saya pada cerita malam itu, dimana si anak dengan raut wajah sedih karena semalaman tidak banyak orang yang mau memberikan uang recehan kepadanya, padahal mungkin saja perutnya sedang lapar, atau mungkin dia berpikir esok harinya harus beli buku sekolah atau memang karena nasibnya malam itu belum beruntung….

Sekarang kita menonton berita baru, uang recehan tampaknya menjadi ikon paling tepat untuk merendahkan orang lain, kita saksikan bagaimana uang koin (receh) dikumpulkan untuk membayar kasus pasien yang dituntut oleh salah satu rumah sakit…. atau berita terbaru ketika uang koin (receh) kembali dikumpulkan untuk memberi efek psikologis yang besar bagi para “koruptor”…. karena uang koin (receh) banyak orang yang mungkin merasa terhina dan direndahkan harga dirinya, tetapi tidakkah kita menyadari bahwa uang koin (receh) masih dianggap paling berharga bagi mereka dijalanan….

ketika uang koin itu diberikan untuk merendahkan orang lain, maka yang muncul hanya hujatan dan gugatan atau paling tidak akan menjadi konflik yang melibatkan proses hukum, tapi jika saja uang koin itu diberikan kepada mereka yang mengais rejeki dari menjual suara yang tak merdu dipinggir jalan, atau yang menengadahkan tangan mencari keridhoan orang lain, tentu maknanya akan jauh berbeda…..

anak jalanan di tengah malam

gambar ini dapat anda lihat dihalaman arsip bulan November 2007 klik gambar pengamen jalanan

potret anak-anak jalanan

mereka polos dan terlalu lugu untuk mencari nafkah demi kelangsungan hidup mereka, dan tentunya belum cukup waktu bagi mereka harus berkompetisi menentukan masa depan di kota ini, apa sebenarnya yang mendorong mereka untuk melakukan semua itu, apakah karena desakan ekonomi keluarga yang teramat sulit sehingga hati dan pikiran mereka demikian matang untuk membantu orang tuanya, ataukah karena faktor lingkungan yang memberi peluang bagi mereka untuk bergelut dengan semua itu.
dari pertanyaan yang aku coba lontarkan kepada mereka, “apakah kalian sekolah ?” dan jawaban mereka “ya, pagi-pagi sekolah, sore kami ngamen sampai malam”. ini realita yang terjadi diantara mereka, dan entah langkah apa yang tepat untuk memaksa mereka kembali kepada dunianya, dunia anak-anak yang ceria, mencari ilmu dan bermain hingga kelak mereka menjadi generasi penerus bangsa ini yang cerdas.

2 thoughts on “Potret Anak Jalanan”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s