MASYARAKAT DI HUTAN

Luas areal hutan di Karawang bagi sebagian masyarakat dianggap menjadi salah satu penyebab sering terjadinya banjir saat musim penghujan, hal ini karena dinilai kawasan hutan sudah rusak dan sangat mengkhawatirkan dengan sedikit sekali tanaman keras yang tumbuh disana karena aktivitas penebangan dengan sedikit sekali upaya untuk penanaman ulang.

Banyak kemudian yang sedikitnya mengkritik dan menyalahkan bahwa penyebab kerusakan hutan itu diakibatkan oleh sebagian kecil masyarakat yang ada di wilayah hutan, mereka cenderung menggarap areal hutan tanpa mempedulikan kelestariannya, bahkan kebanyakan hanya memanfaatkan lahan hutan untuk penanaman palawija dan menebang pohon keras, ini menyebabkan penggundulan hutan dan berdampak pada kerusakan lingkungan.

Apakah masyarakat di hutan harus bertanggungjawab atas terjadinya kerusakan dan penggundulan hutan ?, haruskah pula mereka yang berkewajiban untuk memulihkan kawasan hutan seperti sediakala ?. tentu persoalan ini harus disikapi dengan bijaksana. tidak sedikit masyarakat yang ada di hutan melakukan aktivitasnya lantaran alasan ekonomi dan sebagainya, mereka berjuang untuk bertahan hidup di era seperti ini dengan hanya mengandalkan tenaganya saja, tanpa modal dan keahlian sehingga dampaknya yang terjadi sekarang ini aktivitas mereka sama sekali tidak optimal.

Selain itu, penebangan hutan yang dilakukan sebenarnya lebih di dominasi oleh para pengusaha perkayuan, mereka cenderung mencari dan membeli dari warga yang memang membutuhkan biaya untuk hidup, padahal harga kayu yang mereka beli dari penggarap jauh lebih murah dari harga yang bisa mereka jual. pertanyaannya adalah siapa sebenarnya yang menerima keuntungan lebih besar ? para penggarap atau pengusaha kayu ?. tapi yang pasti adalah masyarakat di hutan melakukan semua itu dengan alasan yang sama “bertahan hidup”.

Saat ini banyak warga di perkotaan dengan penghasilan yang tinggi kemudian memanfaatkan areal hutan untuk sekedar hoby atau sekedar menjadikan tempat tersebut untuk mengisi kegiatan kosongnya, dan sebagian lagi untuk sekedar refreshing, dan mereka rata rata memiliki 2 sampai 3 hektar areal garapan. sayangnya aktivitas mereka masih sama seperti warga masyarakat di Hutan, tidak lantas memanfaatkan areal hutan untuk kembali menjadi hutan, artinya tidak banyak tanaman keras yang mereka tanam.

Perlu sama sama dipikirkan bahwa andai saja hutan di Karawang kembali seperti sediakala, maka diharapkan banjir tidak akan kembali terjadi, dan udara akan menjadi sejuk dan nyaman, hutan mampu mengendalikan perubahan iklim akibat dari peningkatan aktivitas industrialisasi dan kepadatan penduduk, dengan hutan maka keseimbangan alam akan terjaga.

Mari tanami hutan di Karawang dengan tanaman keras, maka kelak kita akan bisa menikmati manfaat yang besar bagi masyarakat luas. aktivitas penebangan dan penjualan pohon kayu tidak perlu dilarang atau kemudian dihentikan, mereka bisa menjual kayu dan pohon, tetapi berikan kesadaran kepada mereka untuk menanam kembali dan tentunya jangan biarkan ratusan ribu hektar areal hutan terbengkalai.

One thought on “MASYARAKAT DI HUTAN”

  1. mantap lah pa.. salam kenal utey smster 1 eknmi mnjmen.. bangunin mahasiswanya pak.. mungkin mahsiswa unsika sedang tdur pulas..ko dibangunin yakin singa gagah perkasa akan bangkit untuk karawang dan bisa jadi agen sosil of chNGE..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s