Produktivitas Pertanian di Karawang

Perlukah Industrialisasi di Sektor Pertanian ?

Pertanian di Kabupaten Karawang yang selama ini masih dinilai kurang menunjukkan perkembangan yang lebih baik, artinya produktivitas pertanian masih rendah jika dibandingkan dengan sektor lainnya, hal ini menyebabkan kebutuhan pengadaan pangan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional tidak jarang pula menjadi terhambat bahkan tidak mencukupi, beberapa kasus yang menunjukkan bagaimana pemerintah mengambil kebijakan impor beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

rontok padi

sumber Photo : Tempo Interaktif 

Lihat saja pola konvensional yang masih dijalankankan oleh petani, pada saat perontokkan gabah ketika panen umumnya petani masih memakai pola konvensional dengan sistem “gebot” sementara teknologi belum diterapkan, padahal berdasarkan pengalaman di ketahui bahwa cara ini cenderung menyebabkan kehilangan gabah sebesar 20 persen tiap hektar terjadi pada saat proses perontokkan. Hal ini sebenarnya dapat di antisipasi jika masyarakat mulai menerapkan teknologi sederhana dalam upaya meminimalisir tingkat kehilangan gabah pada saat proses perontokan

 

 

22 thoughts on “Produktivitas Pertanian di Karawang”

  1. Assalamualaikum,

    Saya berencana Tugas Akhir dengan mengambil wilayah kajian Karawang (bila ketersediaan data memungkinkan). Dalam tugas akhir ini saya berencana untuk menggunakan model pertanian (semoga saja modelnya bisa digunakan di Indonesia), untuk menghitung/memprediksi hasil panen. Dalam hal ini saya membutuhkan beberapa info ttg Karawang, mulai dari letak wilayah, peta areal pertanian, ttg varietas padi yg ditanam selama kurun waktu 30 th terakhir, jenis pertaniannya, dsb. Khusus untuk wilayah Karawang ini, dimana saya bisa mendapatkan info2 tersebut? serta informasi lainnya yg terkait tentang seluk beluk pertanian di Karawang.

    Terimakasih atas informasinya.

    Wassalamualaikum

  2. Asalamualaikum……………
    Pertanian di kerawang Alhamdulillah baru-baru ini ada secercah harapan.. dengan adanya di legalitaskannya UU nomor 16 tahun 2006 tentang SP3K Repitalisasi di bidang pertanian oleh presiden SBY, kesinergian masarakat tani kembali menggeliat lagi. pada tahun 2008 kemarian Kabupaten Karawang bisa meningkatkan produktifitasnya hingga mengalami surplus…..
    ekses yang di timbulkan dari di berlakukannya UU tersebut. langkah pertama yang dilakukan Pemerintahan RI yaitu :
    Menambah Jumlah Penyuluh Pertanian lapangan 1 Desa 1 Penyuluh yang selama ini pakum bahkan terhenti regenderasi selama ini. yang alhamdullillah Kab Karawang terpasok hingga 2009 berjumlah 89 Penyuluh THLTBPP. yang kesemuanya asli putra kerawang…. mohon do’anya….

    Insan tani. Desa Puspasari Pedes

  3. saya mahasiswa yang sedang mencari data mengenai kabupaten karawang dan asal usulnya menjadi salah satu kawasan lumbung padi (walau kemudian menjadi kota industri).kalau mau mencari data lengkap mengenai ini, kira-kira dimana?

    terima kasih

  4. assalamualaikum. . .
    sebenarnya ap yang telah d katakan d atas adalah benar sekali.karawang sebagai lumbung padi nasional haruslah mempertahan kan julukan tersebut, , ,
    beban yang harus d tanggung sebenarnya tidak hanya pada UNSIKA saja sebagai universitas yang ad d karawang tesebut,tetapi putra daerah pun yang bersekolah dan kuliah d luar karawang oun mempunyai kewajiban untuk dapat mengembangkan daerah karawang. . .
    tetepi jika benar UNSIKA tidak mempunyai fakultas pertanian,d usahakan untuk mengadakannya, karena universitas itu berada di wilayah pertanian,sangat ironis jika universitas di daerah pertanian tidak mempunyai fakultas pertanian.justru sekarang ini sangat dibutuhkan,walaupun minat pelajar kurang,tapi apa salahnya.
    sebenarnya petani itu membutuhkan orang yang akan meneruskan pertanian di karawang itu sendiri.

  5. pemerintah yang sudah menetapkan karawang sebagai lumbung padi harus mempertahankan fungsinya sebagai pemasok beras untuk kebutuhan pangan nasional. jangan mengalih fungsikan karawang sebagai kota industri. untuk lebih merangsang petani mengembangkan pertanian pemerintah harus memberikan stimulus yang tepat sasaran.pengenalan teknologi di bidang pertanian juga perlu agar perkembangan pertanian tidak jalan ditempat. bukan hanya mutu yaang di tingkatakan tapi juga ke efisienan. kita harus banyak meniru negara yang cukup bagus dalam penerapan pertaniannya,-seperti jepang- .

  6. pemerintah yang sudah menetapkan karawang sebagai lumbung padi harus mempertahankan fungsinya sebagai pemasok beras untuk kebutuhan pangan nasional. jangan mengalih fungsikan karawang sebagai kota industri. untuk lebih merangsang petani mengembangkan pertanian pemerintah harus memberikan stimulus yang tepat sasaran.pengenalan teknologi di bidang pertanian juga perlu agar perkembangan pertanian tidak jalan ditempat. bukan hanya mutu yaang di tingkatakan tapi juga ke efisienan. kita harus banyak meniru negara yang cukup bagus dalam penerapan pertaniannya,-seperti jepang- .

  7. Petani di daerah saya biasa nya tidak memiliki lahan dan mereka hanya menjadi kuli yg d upah 20rb sehari.Jk musin paceklik tiba biasanya mereka pinjam kepada pemilil lahan (biasanya pa haji -aspal) dengan bunga yg melilit perut.Karna pihak bank2 pemerintah yg katanya nyiapin dana untuk usaha kecil ga tepat sasaran biasanya tuh anggara masuk kantong orang2 kaya di desa dan di sebarkan lagi ke wong cilik dng bunga lebih gede atw masuk kantong2 para guru yg sudah punya gaji gede2.Ah…Jd ngomongin orang.

  8. Sepertinya, kita gak usah membahas hal yg terlalu tinggi dulu. Bukankah sekarang ada isu yg lebih penting untuk diperhatikan! KONVERSI LAHAN PERTANIAN!!! saya rasa ini lebih menyeramkan. kebetulan saya sedang berencana untuk membuat skripsi tentang hal ini. Objeknya Insya Allah daerah karawang, karena saya berasal dari sana dan rasanya sangat khawatir melihat perkembangan pertanian karawang saat ini.
    Mohon jika ada saran ataupun data tentang hal ini, bisa e-mail saya di som3thin6.stup1d@gmail.com

  9. Memang polemik pembangunan industrialisasi dan kapitalis berdampak pada inefisiensinya lahan pertanian sebagai agen pertumbuhan ekonomi, ini sudah konsekwensi dari teori pembangunan namun tampaknya kita belum memahami dan masih terkesan lupa bahwa data menunjukkan lebih dari separuh rakyat di negara ini masih mengandalkan sektor pertanian sebagai matapencaharian utama, upaya untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi melalui pola-pola kapitalism sedikitnya memberi bukti bahwa jumlah kemiskinan dan pengangguran di pedesaan terus menerus meningkat sementara produktivitas sektor pertanian merosot setiap tahunnya, jumlah orang yang makan bertambah namun hasil pertanian berkurang, ini memungkinkan impor bahan pangan akan terus mengalir masuk dan membunuh kesempatan petani untuk menikmati hasil panen bersih setelah dipotong biaya produksi yang sangat tinggi………
    Tampaknya bukan saja pemerintah yang harus lebih konsentrasi memikirkan nasib rakyat khususnya petani, namun seluruh lapisan masyarakat diharapkan dapat menjadi sosial kontrol dan motor penggerak pertumbuhan sektor sektor potensial di pertanian, termasuk saya…anda… dan kita

  10. hingga saat ini, banyak petani karawang yang hanya jadi kuli, sementara tuan-tuannya ada di luar seperti Jakarta dan Bekasi. Jadi, hasil panen diangkut ke luar Karawang.
    Ditambah dengan terus doever alihkannya lahan produksi terutama sawah dijadikan lahan industri dan perumahan. Jadi, Karawang sebagai lumbung padi hanya tinggal kenangan.
    Solusinya, pemerintah harus tegas.
    ASEP TOHA
    Ketua GRPK Karawang.
    Jl. A Yani No. 63. Karawang

  11. Ass.wr.wb
    Saya sebagai Putra Desa merasa Prihatin dengan kondisi Pertanian yang ada di Kabupaten Karawang, sebagian besar Petani masih kurang memahami teknik bertani yang baik, mereka kadang tidak Efisien menggunakan Pestisida dan Pupuk sehingga terjadi Pemborosan yang seharusnya bisa dihindari.
    Bila Waktu panen tiba mereka juga kurang peduli terhadap proses memanen yang baik, kerap kita saksikan gabah berceceran dimana – mana, ini tentunya akibat cara kerja memanen yang asal-asalan. Siapa seharusnya yang dapat membantu para Petani / Petani penggarap dan orang-orang yang terlibat dalam Proses ini agar mendapat pemahaman dan cara yang tepat. Petani perlu mendapat bimbingan yang lebih Intensif dan berkesinambungan karena dari merekalah Stok Pangan Nasional bisa dihasilkan. Perlu dikritisi keberadaan Penyuluh Lapangan yang konon ditugasi untuk membimbing para Petani, mereka terkadang tidak jelas Programnya, dimana sebenarnya mereka berada, bagaimana cara berinteraksi dengan Petani, dengan siapa seharusnya mereka Bersinergi, ini juga tidak jelas. Maka tidak aneh kalau Produktifitas padi di daerah ini masih belum memuaskan.
    Untuk memperbaiki keadaan ini tentu harus ada langkah terpadu dari seluruh element Masyarakat yang terkait dengan kepentingan ini, kita butuh banyak kader-kader yang aktif dan energik, butuh penyuluh lapangan yang kreatif dalam melaksanakan misinya, Para kades diharapkan menjadi motor dalam menggerakan potensi Desanya ( tidak memble ).
    Mengenai Pengairan, saya melihat ada perbaikan dibawah kepemimpinan Bapak Bupati Dadang S Muchtar ini, Beliau sangat kita harapkan untuk terus melangkah dengan ide-ide perbaikannya.
    Pupuk dan Pestisida kadang masih menjadi kendala, harganya terus naik, sehingga dari biaya tanam sebagian besar terserap untuk kebutuhan ini, Kalau saja Petani mendapat Pemahaman yang benar dan melakukan teknik Pemupukan yang tepat, mungkin biaya Tanam akan dapat ditekan tanpa mengurangi pentingnya teknik tanam yang baik, lagi – lagi siapa yang dapat mengarahkan dan membimbing para petaninya.
    Dari seluruh Proses Bertani menurut hemat saya BIMLAT terhadap SDM yang terkait dibidang ini sangat urgent, nah dari mana kita mulai, siapa yang akan tampil menjadi penggerak dan pelopor . . . . . . masyarakat desa menanti dan berharap. Kehadiran PPL yang Kreatif dan Inovatif sangat dinantikan untuk meningkatkan Produktifitas Padi di Kabupaten Karawang.
    Saran Saya kepada Para Pemimpin di Daerah ini untuk terus malakukan usaha-usaha yang dapat meningkatkan semangat para petani dan membuka wawasan mereka dalam meningkatkan usaha-usaha Tani. Kami dari Komunitas akar Rumput Percaya, Pemerintah Kabupaten yang dipimpin oleh Bupati yang energik dan jujur akan dapat meningkatkan Produktifitas Padi di daerah Karawang.

    Wass.
    H.SUKARYO
    Cibuaya

    1. saya setuju dan sependapat dengan bapak. intinya pendidikan bagi petani harus dilaksanakan dengan intensitas yang rutin, selain itu perbaikan kelembagaan yang kompeten mengurusi pertanian juga perlu lebih baik lagi, sumber daya harus ditingkatkan dan tentunya ini akan sangat bergantung pada keseriusan para elite politik dan elite pemerintahan yang sedang memimpin terlepas dari siapa dan darimana yang pasti tujuannya harus jelas, demi rakyat, demi kesejahteraan kaum tani dan masyarakat Karawang…

  12. assalamualaikum wr.wb
    nama saya rachmat fadilah amin usia 19 tahun alamat desa kalangsari rt 06/02 rengasdengklok lulusan sma negeri 3 karawang tahun 2007. kepada pemda karawang apakah ada beasiswa bagi putera daerah karawang yang ingin kuliah di perguruan tinggi kedinasan. saya ingin sekali masuk sekolah tinggi perikanan (STP) jakarta. mohon bantuannya. terima kasih.

  13. Saya adalah putra daerah dari anak Karawang, saya berasal dari keluarga petani. Permasalahan dunia pertanian Indonesia khususnya yang ada di karawang semata-mata permasalahannya bukan pada petaninya melainkan pada sistem dan sistim di negara ini. jika kita melihat Undang-undang saat ini dan peranan pemerintah dalam mensejahterakan dan memajukan dunia pertanian dan para petani Indonesia masih sangat jauh dari keberpihakan terhadap Agricultur. bangsa ini masih sangat malu mempunyai predikat sebagai negara pertanian, bangsa ini terpesona oleh gemerlap neoliberalisme…dimana dampak sektor pertanian ditelantarkan. pertanian di nomor sekian dari prioritas kepentingan NeoLiberalisme..!!
    Bnagsa ini enggan mendidik teknologi pada petani-petaninya, bangsa ini acuh dengan kebijakan yang dapat mensejahterakan petani-petaninya..pada umumnya bagaimana mungkin petani-petani di karawang menggunakan mesin teknologi untuk merontokan gabah sedangkan mereka tidak dibekali dengan ilmunya, bagaimana ia bisa membeli alat, bagaimana bisa ia menyewa alat perontok padi? kalau semua itu terhalang dengan ongkos produksi, biaya tanam selama ini. mereka hampir tidak pernah dan jauh tersentuh dengan kebijakan pemerintah, jauh dari subsidi pemerintah, semua itu hanya bisa dirasakan pada level tertentu saja. badan pertanian pemerintah sibuk dengan masalah yang dibuatnya tapi tak mampu menyelesaikannya. bangsa ini harus malu pada Amerika dimana mereka sebagai negara adikuasa tapi masih sangat memperhatiikan nasib petani-petaninya, masih sangat memperhatikan subsidi pada petaninya, indonesia????
    Kebijakan politik bangsa ini selalu mensensarakan para petani umumnya selalu mensengsarakan dunia pertanian Indonesia. bangsa ini sudah melupakan sistem swasembada pertanian, bangsa ini selalu mengutamakan swasembada pembangunan pusat-pusat perbelanjaan dan BLBI.
    Komentar oleh: Tauhid Hudini, mahasiswa Teknik Pertanian dan Ilmu politik

    1. persoalan ini memang telah muncul jauh sebelum kita sendiri menyadari bahwa Pertanian dalam jangka panjang lambat laun akan menghadapi krisis, kelangkaan faktor produksi menjadi salah satu persoalan besar di sektor pertanian, turunnya produktivitas dan kurangnya optimalisasi lahan pertanian menjadi efek negatif yang terus menerus menjadi masalah, sementara itu eksistensi lembaga yang bertugas membina para petani menjadi semakin melemah, fakta yang terjadi di masyarakat sudah jelas menunjukkan bahwa alih teknologi sektor pertanian tidak banyak berkembang, sehingga ini menjadi salah satu faktor penghambat pembangunan sektor pertanian, sedangkan persoalan yang terjadi seputar tingginya biaya produksi sektor pertanian memang menjadi polemik yang hingga saat ini belum terpecahkan, dan mungkin tidak akan pernah terpecahkan sehingga petani tetap menjadi bagian yang dirugikan….

  14. ya, saya sangat setuju dengan pendapat anda (maaf jika saya menyebut “anda”) memang ironis sekali pertanian di Karawang ini, tapi itulah konsekwensi pembangunan industrialisasi dan mungkin dampak kapitalism, persoalan yang semakin mengkerucut tampaknya bukan tidak mungkin lambat laun akan menimbulkan efek yang mengancam pembangunan sinergi yang berkelanjutan, petani yang selalu menjadi topik paling hangat diperbincangkan, bahkan menjadi komoditas para elite politik Karawang dan banyak lagi.
    Kalo tadi menurut anda UNSIKA sebagai satu-satunya Universitas di Karawang harus memiliki andil besar bagi sektor pertanian, memang telah ditempuh jauh-jauh hari, Unsika memiliki Fakultas Pertanian jurusan Agronomi, namun sayang peminatnya sama seperti SEkolah Pertanian yang di Rawa Gabus dengan jumlah mahasiswa sedikit, padahal Beasiswa Gratis mengikuti perkuliahan sampai dengan lulus diberikan oleh Pemerintah Daerah bahkan beberapa perusahaan juga, tapi ya begitulah.
    Kalo petani bisa menghasilkan jamur merang sebagai komoditas lain setelah padi, mungkin tidak akan terjadi pembakaran jerami pasca panen yang cukup memberikan efek terhadap global warming, tapi sayang memang upaya seperti itu belum sepenuhnya ditempuh secara optimal
    saya merasa saluut atas perhatian anda, jika memungkinkan silahkan anda terus memberikan tanggapan seputar sektor pertanian dan pembangunan lainnya

  15. Bung, itulah nasib petani kita. Dari beberapa kesempatan berbincang dengan teman-teman, saya sering usulkan begini. Kita tidak usah malu meneruskan kebijakan sektor pertanian rezim Orde Baru dulu. Banyak hal yang masih bisa dipakai untuk “menyelamatkan” pertanian kita, seperti memaksimalkan peran PPL untuk membimbing petani.Karawang punya koran Radar Karawang, tapi ironisnya tidak ada rubrik yang membuat petani kita menjadi pintar (bertani), kenapa Pemkab (cq. Dinas Pertanian) tidak memanfaatkan koran ini. Penerapan teknologi tepat guna juga masih minim, seperti yang Bung bilang, petani kehilangan 20% gabah tiap ha. Satu lagi yang bikin saya prihatin, UNSIKA, universitas kebanggaan Karawang..kok ga punya Fak. Pertanian??? (maaf kalau saya salah, tolong dikoreksi) atau sekolah setingkat akademi yang mengkhususkan pada jurusan pertanian. Pengangguran di Karawang saat ini sekitar 80.000 orang. Sektor industri yang diharapkan dapat menyerap tenaga kerja, ternyata investasi yang tumbuh di Karawang sangat minim. Sementara untuk bekerja di sektor pertanian…ntar dulu… Ah.. saya cuma bisa berangan2 saja Bung. Coba kalau misalnya petani kita pintar dan cerdas semua (yang tidak mudah dikibuli dan dipermainkan tengkulak2)..sektor ini akan sangat luar biasa dampaknya bagi kesejahteraan rakyat. Sistem irigasi di Karawang jauh lebih baik drpd daerah lain. Petani bisa menanam pad sepanjang musim. Ohya, petani Karawang sdh memanfaatkan jerami untuk budidaya jamur merang belum ya? Jerami di Karawang sangat melimpah kan? Atau memanfaatkan sekamnya? Ini kan bisa membuka peluang usaha yang baru. Besok sambung lagi ah… ga bakalan ada habisnya ngomongin pertanian…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s