VERSI NAPAK SAJARAH KARAWANG,

Dalam buku Sejarah Berdirinya Kabupaten Karawang yang disusun oleh R.H. Tjejep Supriadi tahun 1994 yang lalu dijelaskan secara berurutan bagaimana Kabupaten Karawang terbentuk serta berbagai nama dan istilah yang mengawali munculnya nama Karawang. Dalam buku tersebut penulis melihat beberapa perbedaan dengan buku yang di terbitkan oleh Pemerintah Propinsi Jawa Barat yang judulnya West Java Miracle Sight, a mass of verb and scene information, tahun 2005. Pada dasarnya perbedaan tersebut tidak terlalu prinsipil namun alangkah baiknya jika dilakukan perbaikan semestinya sehingga sejarah yang ada tidak menyimpang dari kebenarannya.

Dalam Buku R.H. Tjejep Supriadi pada halaman 19 disebutkan bahwa pada tahun 1620 Raja Sumedang Larang Aria Suriadiwangsa menghadap Sultan Agung Raja Mataram untuk menyerahkan kerajaan Sumedang Larang berada di bawah kekuasaan Mataram, dan saat itu wilayah bekas kerajaan Sumedang Larang menjadi “Priangan” (dalam buku lain disebut “Hama Priangan” yang memiliki arti yang sama), sedangkan dalam buku yang diterbitkan oleh Propinsi Jawa Barat peristiwa penyerahan Sumedang Larang itu terjadi pada tahun 1520 (Bab XIV, hal 435). Selisih tahun tersebut sekitar 100 tahun sehingga tidak bisa dikatakan sederhana mengingat pada satu abad tersebut berbagai sejarah kemungkinan juga banyak terjadi dan tentunya pula hal ini dapat berpengaruh terhadap penanggalan dan tahun penentuan sejarah berikutnya.

Kemudian perbedaan nama daerah juga terjadi di dalam dua buku tersebut yaitu pada buku R.H. Tjejep. S disebutkan tiga kampung pertama di Karawang yang dibentuk oleh Wirasaba (Aria Surengrono dari Mojoagung Mojokerto) bernama kampung Waringinpitu, Parakansapi dan Adiarsa, sedangkan dalam buku lainnya disebutkan satu kampung bernama Kandangsapi (bukan Parakansapi seperti dalam buku R.H. Tjejep).

Penulis menganggap bahwa perbedaan tersebut mungkin karena ketidak telitian pada saat proses penulisan naskah yang luput dari proses editing, atau perbedaan penggunaan bahasa, atau hal lainnya, namun demikian ini menunjukkan bahwa perhatian kita terhadap sejarah dan budaya daerah berkesan kurang bersungguh-sungguh, jika kita telaah bahwa sejarah ini akan terus menerus hidup dan dipelihara oleh masyarakat sehingga kesalahan yang terjadi meskipun sedikit saja akan mengurangi makna sejarah itu sendiri.

Penulis membayangkan mungkin perbedaan seperti tersebut di atas bisa terjadi di berbagai sumber yang mencantumkan sejarah Karawang (umumnya jawa barat) dan apabila itu terjadi maka bukan tidak mungkin masyarakat akan dibingungkan dengan informasi tersebut. Semestinya dibentuk tim khusus yang dapat memeriksa berbagai sumber buku sejarah untuk menyamakan persepsi sehingga buku yang dipublikasikan tidak berkesan asal-asalan.

Penelusuran sejarah yang disusun oleh beberapa pengamat, dari keseluruhan isi buku tersebut sedikit sekali data yang mengungkap adanya komunitas masyarakat di daerah Karawang selain dari apa yang dituliskan (seperti kampung Waringinpitu, Kandangsapi dan Adiarsa) padahal mungkin saja ada kampung-kampung lain di Karawang yang berkembang jauh sebelumnya dan itu tidak diungkapkan seperti misalnya dalam catatan sejarah disebutkan bahwa Raja Sultan Agung dari Mataram memerintahkan pasukannya untuk mengusir pasukan dari kerajaan banten yang ada di Karawang, kampung tempat bermukimnya pasukan banten itu sendiri diyakini berada di wilayah Kecamatan Batujaya. Lalu sebuah misteri muncul seiring dengan pertanyaan tentang dimanakah asal muasal berkembangnya masyarakat di Karawang pada sebelum ditemukannya bukti sejarah dari kerajaan Mataram.

Bukti baru dengan ditemukannya situs candi di Kecamatan Batujaya yang belum lama ini telah menjadi sorotan dunia tampaknya masih belum benar-benar menjadi objek pengembangan potensi daerah, hal ini dapat dimaklumi mengingat hingga saat ini belum diperoleh data lengkap mengenai sejarah Candi tersebut dan pada masa kerajaan mana Candi ini dibangun, juga biaya untuk melakukan penelitian dan pembangunan kembali candi tersebut sangatlah besar.

Membaca sejarah Jawa Barat dalam buku West Java Miracle Sight halaman 13 dijelaskan bahwa diantara Karawang-Bekasi diperkirakan berdiri kerajaan tertua di Indonesia yaitu kerajaan Tarumanagara awal abad ke 5 hingga 7 Masehi. Kemudian berdasarkan prasasti yang ditemukan di Desa Tugu (Jakarta) mengungkapkan Purnawarman pernah memerintahkan penggalian 2 saluran yang disebut Candrabhaga dan Gomati. Saluran Gomati diselesaikan selama 21 hari pada tahun ke 22 pemerintahan Purnawarman. Kedua saluran itu diperkirakan berada di daerah Bekasi dan berfungsi sebagai pencegah banjir, irigasi, pertahanan dan untuk jalan pelayaran.

Penulis beranggapan mungkin saja Aliran Candrabhaga dan Gomati yang disebutkan dalam Prasasti Tugu adalah Sungai Citarum sekarang yang terbagi dua di daerah Bekasi letaknya di Desa Cabang Bungin, satu aliran ke Muara Gembong menuju Jakarta dan satu lagi menuju laut utara,  tetapi apabila melihat jarak kedua aliran tersebut yang cukup jauh baik yang menuju cabang maupun ke Muara Gembong, sangat mustahil apabila salah satu saluran tersebut dikerjakan dalam 21 hari, Penulis melakukan survei disepanjang sungai citarum dan menemukan satu aliran sungai yang telah lama tidak berfungsi, maka dari itu menurut penulis mungkin saja keberadaan salah satu saluran antara Gomati dan Candrabagha tersebut juga adalah nama sungai sebelah Aliran Citarum dengan sebutan Kalimati (perkiraan penulis) yang berada di Kampung Tenjojaya desa Telukbuyung Kecamatan Pakisjaya, yang berbatasan dengan salah satu kampung Bekasi. hal ini diperkuat beberapa bukti antara lain Penduduk sebelah barat dan utara aliran Kalimati adalah penduduk yang tercatat sebagai warga Kabupaten Bekasi, sedangkan secara geografis keberadaan kampung tersebut di Karawang karena terletak diseberang timur sungai Citarum sekarang. Kalimati yang dimaksud adalah sungai yang sudah tidak berfungsi dan hingga saat ini menjadi kubangan yang menampung air pada musim hujan sedangkan musim kering biasanya digunakan masyarakat untuk bercocok tanam, panjang aliran sungai Kalimati ini mencapai kurang lebih sekitar 2-3 Kilo meter yang melingkar menyerupai Gentong (Buyung). Mungkin karena kondisi aliran yang berkelok sangat menyulitkan lalu lintas air, maka inisiatif dibuat jalur pintas yang menghubungkan antara aliran masuk dan keluar sungai yang jaraknya sekitar 100 – 200 meter.

Berdasarkan cerita yang berkembang secara turun temurun dari orang tua diseputar wilayah itu bahwa Kalimati merupakan bekas aliran sungai citarum yang sudah lama tidak berfungsi lagi, diperkirakan sejak masa kolonialisme di Indonesia sungai tersebut memang telah tidak berfungsi. Selain daripada itu dipercaya pula bahwa didasar sungai kalimati tersebut terpendam beberapa kapal dagang dan benda berharga lainnya karena jalur tersebut sebelumnya diperkirakan sebagai aliran transportasi perdagangan. Karena sering terjadinya banjir di lokasi tersebut maka sungai Citarum yang berkelok membentuk Buyung kemudian di potong menjadi lurus dan aliran sungai yang terpotong menjadi aliran kalimati dan lama kelamaan mengalami pendangkalan. Tragisnya di daerah tersebut (seputar desa telukbuyung) sering terjadi banjir di setiap tahunnya bahkan pada tahun 2004 sampai dengan tahun 2007 kemarin tercatat peristiwa banjir terbesar. Terlepas dari benar atau tidaknya aliran Kalimati adalah sungai Candrabhaga dan Gomati yang pasti apabila saluran itu berfungsi sebagaimana mestinya maka bukan tidak mungkin banjir yang selama ini terjadi di daerah tersebut sedikitnya dapat ditanggulangi.

Bukti lainnya berasal dari China yang menyatakan bahwa Tarumanagara telah menjalin hubungan Internasional dengan China dan India, dalam sejarah disebutkan China mengirimkan utusannya ke Tarumanagara yaitu seorang pendeta Budha bernama Fa Hien pada tahun 414 Masehi, sayangnya data ini tidak menuturkan secara lengkap keberadaan Fa Hien di tanah Tarumanagara. Penulis memperoleh sumber informasi dari Vihara Sian Jian Ku Poh di Tanjungpura yang menyebutkan awal kuil tersebut didirikan sekira tahun 1600 – 1700 Masehi. Pada bagian sejarah kuil itu disebutkan bahwa telah ada penduduk dari Tionghoa yang berada di Tanjungpura dengan ditemukannya bukti berupa tulang belulang warga tionghoa yang diduga telah dibunuh oleh kolonial pada saat itu, bagian ini menguatkan bahwa orang China sebelumnya telah masuk ke Karawang jauh sebelum tahun 1600-an, tetapi sayangnya pula ini masih menjadi misteri mengingat data dan informasi yang diperoleh sangat terbatas.

16 thoughts on “VERSI NAPAK SAJARAH KARAWANG,”

  1. saat ini saya lagi mendesign sebuah pelabuhan laut tepatnya di Kawasan Muara Gembong. Pemkab Bekasi telah memberi nama Pelabuhan Tarumanegara. Pelabuhan ini saya design dan dibangun untuk mengantisipasi perdagangan dari Jawa barat umumnya dan Karawang-Bekasi khususnya yang selama bertahun tahun terhambat oleh ketidak siapan Pelabuhan Tanjung Priok. Pelabuhan Tarumanegara ini saya harapkan dapat memperlancar perdagangan, meningkatlan PAD, membuka lapangan kerja bagi penduduk sekitar, mensejahterakan rakyat dan mengangkat harkat harga didi kita sebagai bangsa maritim yang sedang terpuruk. Mhn doa restunya.
    Salam dari saya : Agus-Marto.

    1. informasi pembangunan pelabuhan di pesisir utara Karawang atau Bekasi memang telah cukup lama didengar meskipun sampai saat ini belum tahu pasti dimana lokasi pelabuhan tersebut akan dibangun, kalau saya melihat letak wilayah Muara Gembong yang relatif dekat dengan pelabuhan Tanjung Priok tetapi daerah ini dialiri dua buah sungai yang cukup besar dan terkenal sering banjir, jadi pembangunan pelabuhan di sana perlu perencanaan yang lebih tepat jangan sampai berdampak negatif pasca pembangunan, tapi saya tidak meragukan kemampuan para arsitek dan ahli yang tentunya sudah membuat desain yang tepat. Tapi sedikit yang membuat saya penasaran, ada Kidung Karawang yang diciptakan cukup lama menyebutkan “Ciparage Palabuhan” dan memang sebagian besar masyarakat meyakini bahwa akan dibangun pelabuhan bertaraf internasional di daerah ini, entah benar atau tidak yang pasti semoga pembangunan pelabuhan itu dapat memberikan manfaat yang jauh lebih besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat

  2. Pak/Ibu yang terhormat………
    sya mo tnya…..
    pada waktu jman krajan”
    apakah apakah Kota Karawang sudah ada…..
    dan apakah nama lain/nama kerajaan KArawang….

    terima kasih
    Zagat RS

    1. saya kesulitan mencari bukti dan informasi mengenai sejarah bupati bandung ke 18 karena pasca bupati R. Wiriadipura (1956-1957) langsung ke bupati R. Memet Ardiwilaga (1960-1967) sementara periode 1957-1960 tidak ada informasi siapa yang menjabat bupati masa itu karena R.Wiriadipura tercatat hanya menjabat 1 tahun saja….. ini jadi PR buat pemerintah daerah khususnya kabupaten Bandung dan Propinsi Jawa Barat untuk menggali informasi yang lebih banyak

    1. kalo wawancara secara resmi dengan beliau (R.H. Tjetjep.S)berkaitan dengan sejarah karawang belum pernah saya lakukan, saya hanya membaca bukunya saja meskipun pada tahun 1995-1999 saya sering di rumah beliau karena anak beliau sahabat saya waktu kuliah, sedikitnya ngobrol tentang sejarah karawang kadang sering saya dengar. apalagi beliau adalah ki sepuh dalang seni pewayangan paling senior dan terkenal di Karawang, jadi memang cukup bangga bisa kenal dengan beliau

  3. sebagai warga krawang, tentang sejarah krawang belum sepenuhnya dikupas lebih dalam, seandainya bisa digali lebih dalam mungkin bisa ditemukan lagi situs, candi , relief atau semacam bukti yang lebih tentang kota karawang, misalnya adiarsa , nagasari , teluk jambe pokoknya seluruh kecamatan karawang , saya ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang krawang.

  4. assalamu’alaikum

    mohon sangat mohon saya ingin sekali tahu secara detail tentang adipati rd. ar. wirasaba (rd. ar. surengrono)termasuk nasabnya, dan apa hubungannya antara wirasaba dengan rd. p. wijayakusuma/ jaya kusuma dan nama wirasaba apakah ada hubungannya dengan nama wirasaba di banyumas.

    wasalam

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s