PEMERINTAH KARAWANG BELUM MAKSIMAL MELAKSANAKAN PROGRAM KALI BERSIH (PROKASIH)

Masyarakat di Kota Jakarta setiap tahun merasa jenuh dengan Banjir yang dipercaya sebagai “banjir kiriman” dari Kabupaten Bogor yang mengalir melalui  sungai Ciliwung menuju Jakarta. Sementara Pemerintah Kota Bogor dengan argumennya yang meyakinkan menampik tuduhan telah mengirimkan banjir ke jakarta karena telah melaksanakan Program Penataan bantaran sungai disepanjang sungai yang menuju Jakarta.

Persoalan yang dihadapi dua pemerintah daerah tersebut cukup menarik, apalagi beritanya seringkali dimuat diberbagai media massa baik cetak maupun elektronik. Tapi mungkin persoalan tersebut bukan saja ketika banjir melanda kota Jakarta saat musim hujan tiba, pada musim kemarau datang melanda persoalan lain muncul yaitu pencemaran air yang menimbulkan pemandangan kurang menyenangkan karena tumpukkan sampah dan bau yang menyengat.

Lalu bagaimana dengan kondisi aliran sungai di Karawang ?, pada tahun 2004 dan 2006 kemarin banjir telah melanda sebagian wilayah Karawang. Kampung Tenjojaya Desa Telukbuyung di Kecamatan Pakisjaya sebagian besar rumah penduduk terendam air hingga 3 meter, lahan pertanian rusak, banyak ternak yang mati dan penyakitpun menyerang warga, hebatnya lagi banjir pada tahun 2006 telah “menenggelamkan” perumahan elite di kota Karawang yang lokasinya cukup jauh dari aliran sungai Citarum. Lalu pertanyaan muncul, banjir ini “kiriman” dari mana ?.

Menanggapi peristiwa tersebut muncul berbagai pendapat, antara lain adalah debit air yang meningkat dan diluar daya tampung Waduk jatiluhur sehingga aliran tersebut tidak dapat dikendalikan, kemudian banjir yang terjadi disebabkan oleh penggundulan hutan yang dilakukan oleh orang-orang yang “tidak bertanggungjawab” di wilayah Karawang sehingga aliran air tidak tertahan dan langsung menuju sungai. Kedua pendapat tersebut ada benarnya karena biar bagaimanapun banjir yang terjadi tentunya ada sumber penyebabnya, lalu siapakah yang paling bertanggungjawab ?.

Beberapa waktu lalu masyarakat di Kecamatan Cilamaya dihadapkan pada persoalan pencemaran sungai yang sangat meresahkan warga, dan itu terjadi pada musim kemarau tahun ini. Dampak yang ditimbulkan dari pencemaran ini bukan saja aliran sungai yang tidak dapat dimanfaatkan oleh warga, tetapi juga bau yang ditimbulkan menyebabkan munculnya penyakit saluran pernafasan. Masyarakat telah mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk pemulihan sungai dan bahkan para anggota Dewan Perwakilan Daerah telah berkenan untuk mengunjungi lokasi tersebut, sungguh suatu hal yang luar biasa!.

Tetapi hendaknya ini tidak dengan serta merta dijadikan sebagai satu bukti perhatian pemerintah dan anggota DPR terhadap lingkungan (khususnya sungai/kali) karena ini bersifat insidentil dan bukan sebuah program keberlanjutan, mengapa demikian ? pertama, hal ini terjadi karena ada kasus yang muncul dan dikhawatirkan akan menimbulkan dampak besar terhadap warga dan khususnya pemerintah daerah, kedua aliran sungai yang terancam menimbulkan dampak serupa (seperti di Cilamaya) potensinya sangat besar dan itu tersebar di beberapa daerah dan belum menjadi target program lingkungan (khususnya Prokasih), ketiga upaya sosialisasi dan diseminasi mengenai lingkungan (khususnya aliran sungai/kali) intensitasnya masih rendah dan umumnya jarang sekali dilakukan. Keempat, penataan dan pemeliharaan aliran sungai/kali terkesan masih semrawut dan tidak jelas arahnya.

Apabila pembaca berjalan-jalan di seputar taman yang terletak di Bundaran air mancur yang menuju Rawasari (niaga) dapat ditemukan bukti bahwa aliran got yang berada dilokasi tersebut sungguh tidak terawat, sampah telah memadati got tersebut karena memang lokasi taman telah menjadi tempat para pedagang kaki lima yang tidak pernah ditertibkan. Akibatnya pada musim hujan di lokasi ini selalu terjadi genangan air dan berbau tidak sedap, kemudian saluran yang berada di jalur By Pass yang banyak ditumbuhi eceng gondok dan juga dipenuhi sampah karena ulah masyarakat yang tidak merasa peduli dengan lingkungan juga belum ditata secara apik sehingga terkesan sangat kotor, kalau saja di tengah kota got dan saluran air tidak pernah menjadi prioritas kebersihan, apalagi dengan aliran air (sungai/kali) di pedesaan ?.

Program Kali Bersih (Prokasih) yang dicanangkan pemerintah seyogyanya mendapat prioritas utama seiring dengan semakin meningkatnya aktifitas pembangunan dan pertambahan penduduk, perlunya sosialisasi mengenai kebersihan lingkungan bagi masyarakat, dan perbaikan kelembagaan yang berkaitan dengan lingkungan serta pelaksanaan kebijakan pemerintah daerah melalui Peraturan Daerah (Perda) yang secara komprehensif mampu memecahkan persoalan lingkungan yang muncul

One thought on “PEMERINTAH KARAWANG BELUM MAKSIMAL MELAKSANAKAN PROGRAM KALI BERSIH (PROKASIH)”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s