MENGAPA LAHAN PEKARANGAN SEBAGIAN BESAR MASYARAKAT DI KARAWANG TIDAK PRODUKTIF ?

Masyarakat Jakarta mulai keranjingan hobi memanfaatkan lahan pekarangan untuk ditanami sayuran dan tanaman lain yang dapat menghasilkan uang, berbagai model dan teknik penanaman di kembangkan demikian juga dengan banyaknya tulisan yang mengulas tentang bagaimana lahan dapat menjadi lebih produktif, mulai dari teknik vertikultur sampai dengan metode hidroponik pun mulai digemari.

 

Wajar saja jika warga Jakarta mulai mengembangkan budidaya tanaman dengan cara seperti itu karena semakin terbatasnya lahan pertanian, bayangkan saja untuk mengolah pertanian dengan teknik konvensional paling tidak dibutuhkan luas lahan ribuan meter bahkan hektaran, Warga Jakarta tidak memiliki lahan seluas itu, selain itu paradigma berfikir warga yang berkembang jauh lebih baik untuk menciptakan beragam inovasi.

 

Lain di Jakarta tentu lain pula di Karawang, luas lahan pekarangan penduduk di karawang khususnya di pedesaan terhitung cukup luas jika dibandingkan dengan kebanyakan perumahan di perkotaan, namun luas lahan pekarangan tersebut umumnya tidak menghasilkan apa-apa alias tidak produktif, kebanyakan warga bercocok tanam dengan cara konvensional sehingga membutuhkan lahan yang cukup luas, namun sayangnya produksi pertanian dan perkebunannya relative belum mampu menjadi unggulan karena kualitas produk yang rendah sebagai akibat dari perawatan yang tidak optimal.

 

Ketergantungan warga terhadap lahan yang luas untuk bercocok tanam menjadi persoalan, pengetahuan untuk menggunakan metode penanaman dengan teknik modern pun belum mereka kuasai sehingga banyak diantaranya yang kemudian tidak dapat menjalankan usaha bertani karena factor keterbatasan lahan dan pola konvensional yang mereka kuasai.

 

Dalam sebuah tulisan yang di terbitkan Harian Kompas yang diperoleh dari situs http://www.kompas.com yang ditulis Oleh Dr. ROCHAJAT HARUN menyatakan bahwa perlunya menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang (enabling). Di sini titik tolaknya adalah pengenalan bahwa setiap manusia, setiap masyarakat, memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya itu untuk mendorong (encourage), memotivasi, dan membangkitkan kesadaran (awareness) akan potensi yang dimilikinya serta berupaya untuk mengembangkannya.

“Vertikultur adalah cara pertanian yang hemat lahan. Sangat cocok diterapkan di daerah permukiman padat,”  kata Edi Junaedi, pemerhati masalah pertanian kota dari Konphalindo (Konsorsium Nasional untuk Pelestarian Alam dan Hutan Indonesia).

Dalam satu kesempatan berbincang dengan seorang kawan dari daerah Selatan Karawang yaitu Kecamatan Tegalwaru, seorang aktivis lingkungan hidup yang juga gemar mengembangkan sektor pertanian dan lingkungan Ahmad Rakhmat, SE seorang pendiri organisasi lingkungan hidup “Oepas Korak” yang berkiprah untuk mengembangkan daerahnya yang memang memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar. Kenyataan bahwa sektor pertanian menurutnya memang belum mendapatkan perhatian yang serius, dalam artian bahwa perkembangannya khususnya di daerahnya pengelolaan sektor pertanian masih bersifat konvensional, hal ini terlalu rawan dengan kondisi alam di Tegalwaru yang kebanyakan masih hutan, jika saja warga tetap beranggapan bahwa untuk bercocok tanam dibutuhkan laha yang luas, maka dampaknya pasti akan membuka lahan baru dihutan, dan ini berakibat pada kerusakan hutan tersebut, jadi alangkah lebih baik jika dilakukan upaya untuk mengembangkan teknik pertanian modern untuk mengantisipasi munculnya kerusakan tersebut.

 

Lain lagi dengan pendapat kawan dari Kecamatan Telukjambe Edi Yusuf Sugianto, SE yang sekarang ini sedang tertarik untuk mengembangkan pertanian dengan metode Vertikultur, keterbatasan lahan pertanian yang menggugah keinginannya untuk mengembangkan metode tersebut, kesibukannya sebagai pengelola Program Kegiatan Belajar Masyarakat “Bina Sejahtera” Telukjambe Timur memberikan inspirasi untuk mengikutsertakan pula siswa belajar dalam kegiatan pertanian, ini akan memberikan tambahan wawasan dan keterampilan serta kecakapan hidup bagi para siswa, sehingga diharapkan mereka akan mengembangkan usaha pertanian yang lebih berkualitas dikemudian hari.

 

Pada bulan Juni 2007 lalu koresponden dari Jepang Prof Dr. Kenichiro Arai mengirimkan artikel mengenai teknik pertanian Jepang yang modern, saya memintanya untuk dapat dijadikan sebagai tambahan pengetahuan saya yang mungkin menjadi bahan untuk dikembangkan di Karawang, Warga Jepang memang telah mengembangkan teknik tersebut sejak dulu, mereka lebih banyak menggunakan metode hidroponik atau vertikultur dan metode lainnya untuk menanam sayuran dan buah-buahan, hal ini dilakukan karena keterbatasan lahan pertanian di Jepang sehingga teknik ini berkembang dengan baik.

 

Lalu mengapa teknik pertanian dengan metode tersebut sangat jarang dikembangkan di Karawang ?, persoalannya mungkin karena luas lahan pertanian di Karawang masih cukup luas, atau mungkin karena teknik tersebut belum dikuasai oleh warga, jika saja lahan pekarangan rumah dapat dimanfaatkan oleh warga masyarakat, tentunya luas lahan pertanian dan perkebunan yang adapun dapat dimanfaatkan lebih optimal lagi, tidak seperti sekarang ini dimana lahan pertanian dan perkebunan masih relatif kurang produktivitasnya.

 

Mungkin anda mempunyai pendapat yang sama dengan saya mengenai hal ini.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s