Pesona Es Kelapa Bakar

Sumber Tulisan di Pikiran Rakyat, senin 01 Okt 2007

MESKI bukan sebagai penganan khas kota lumbung padi Jabar, pesona es kelapa muda bakar kian hari makin diminati. Satu daya tarik yang umumnya menggoda calon pembeli adalah keingintahuan mereka terhadap rasa buah kelapa di balik serabut dan batok kelapanya yang sudah gosong dibakar.

Dibanding penjual es kelapa muda biasa, jumlah pedagang es kelapa bakar bisa dihitung dengan jari. Kendati demikian, di salah satu sudut desa di Parakan Kec. Tirtamulya, sebuah warung penjual kelapa bakar ”Silahkan Coba” begitu laris dikunjungi pembeli. Kebanyakan para pembeli berdatangan dari luar desa, seperti Cikampek, Cilamaya, Jatisari, Lemahabang dan Telagasari.

”Bahkan orang luar pun seperti dari Jakarta, Cirebon, Purwakarta, Bandung, dan Tasikmalaya datang untuk mencoba kelapa bakar. Tapi untuk pembeli di desa setempat saya rasa jarang sekali, karena melihat harga yang terhitung mahal sekitar Rp 7.000,00 per butir,” ujar Mahtum bin H. Eman alias Abi (62) pemilik warung kelapa bakar, sambil tersenyum, ketika ditemui, Kamis (6/9) lalu.

Ia menyebutkan, sedikitnya 200 hingga 300 butir kelapa muda dalam kurun waktu sepuluh hari habis terjual. Ratusan buah kelapa didatangkan dari daerah pesisir dan pedesaan di sebelah utara Kec. Tirtamulya. ”Kelapa itu dikirim sendiri oleh bandar langsung ke sini. Saya membelinya seharga Rp 1.800,00,- per butir,” ujar Abi yang ditemani istrinya Halimah (55).

Setelah kelapa diturunkan dari mobil, panggangan berkuran 1×2 meter persegi, berikut arang kayu bersumber dari batok dan tapes (cangkang serabut kelapa-red.) sudah siap menampung sedikitnya 12 butir kelapa. Proses pembakaran pun membutuhkan waktu selama 3 hingga 4 jam. Menurut Abi, tidak semua kelapa dapat dibakar dan menghasilkan kelapa lezat untuk disantap. Menurutnya, usia kelapa yang lebih tua atau terlalu muda akan menghasilkan rasa kelapa yang kurang enak. Selain itu kerugiannya, daging kelapa akan semakin mengering atau keropos.

Setiap kelapa yang sudah dibakar dapat bertahan selama dua hari. ”Kualitas rasanya masih tetap sama, tetapi kalau dimakan langsung setelah diangkat dari panggangan kurang begitu nikmat karena airnya masih mendidih,” ujar Halimah menimpali.

Selain daging kelapa, campuran susu bubuk, jahe, gula merah, daun pandan, serta air kelapa dingin menjadi satu bagian yang siap dihidangkan untuk pembeli. Kini, omzet harian yang didapat Abi, tercatat tak kurang mencapai Rp 200.000,00,- hingga Rp 300.000,00,- per hari. Usahanya yang telah dirintis sejak dua tahun lalu, sebenarnya terinspirasi dari pembakaran kelapa di Malaysia. Tetapi, diakui Abi resep yang digunakannya berawal dari iseng-iseng menciptakan rasa sendiri. Sejumlah pejabat kecamatan, serta para kades tetangga sering kali mampir ke warungnya mencoba segarnya es kelapa bakar tersebut.

Entis Sutisna, Kades Pulokalapa Lemahabang, menyebutkan rasa kelapa bakar yang disantapnya membuat ketagihan. ”Ada rasa manis, anget, dingin dan khas wangi gosong serabut kelapa itu terasa tapi tidak membuat jijik. Malah justru sebaliknya,” ujarnya tertawa ketika kedapatan sedang menyantap es kelapa bakar tersebut. (JU-10)***

3 thoughts on “Pesona Es Kelapa Bakar”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s