Arsip

Archive for the ‘lainnya’ Category

BIAYA KULIAH DI UNSIKA 2012

15 Maret 2012 8 komentar

Berikut ini rincian biaya perkuliahan di Unsika Untuk Tahun Angkatan 2012/2013 Silahkan KLIK
Rincian Biaya Perkuliahan di Unsika Tahun 2012

Rincian Biaya Kuliah 2012 Pdf

 

INFORMASI :

Jumlah Mahasiswa yang sudah mendaftar di Unsika secara keseluruhan hingga bulan April 2012 tercatat sebanyak 426 calon mahasiswa

Karawang dalam sudut pandang geografis dan pertanian

3 Oktober 2007 2 komentar

Sumber Tulisan dari situs Departemen Pertanian Jawa Barat

Kabupaten Karawang merupakan salah satu kabupaten lumbung padi di wilayah Pantura Propinsi Jawa Barat, yang luas wilayahnya mencapai 1753,27 km2. Sebagian besar topografi berbentuk dataran dengan variasi ketinggian antara 0-5 M diatas permukaan laut, dan sedikit bagian wilayah berbukit. Secara umum jenis tanah di Kabupaten Karawang terdiri dari alluvial terutama pada lahan sawah dataran rendah, sedangkan untuk daerah berbukit terdiri dari padzolik dan latosal.

Berdasarkan penggunaan lahan tahun 2001 Kabupaten Karawang lahan pertanian terdiri dari 93.590 ha lahan sawah (86% adalah pengairan teknis) dan 81.737 ha lahan kering (9% Tegalan, 30 % Pekarangan). Lahan sawah umumnya ditanam padi 2 kali setahun, yang mencakup luasan 91.373 ha. Pola tanam yang umum di praktekkan petani adalah padi-padian, palawija. Tanaman palawija yang ditanam adalah kedelai, kacang ijo atau sayuran buncis.

Wilayah Administrasi Kabupaten Karawang dibagi menjadi 4 Kawedanan (Pembantu Bupati), 22 Kecamatan dan 307 desa/kelurahan.

Jumlah penduduk Kabupaten Karawang sampai akhir tahun 2001 adalah 1.767.945 jiwa terdiri dari 890.510 jiwa laki-laki dan 877.435 jiwa perempuan; dengan kepadatan rata-rata 1.007,23 orang/km2.

Iklim Kabupaten Karawang termasuk tipe iklim D (oldeman) dengan curah hujan rata-rata 1425,5 nm pertahun dengan jumlah hari hujan rata-rata 69,75 hari/tahun.

Masa tanam padi puncaknya pada bulan-bulan April-Juli dan Nopember-Januari; dengan puncak masa panen padi pada bulan-bulan Februari-April dan Juli-Oktober, dan Produksi padi Kabupaten Karawang mencapai 1.109.614 ton per tahun pada tahun 2001.

Visi dan Misi Kabupaten Karawang

Visi : “Terwujudnya Kabupaten Karawang yang damai, maju sejahtera melalui pemulihan perekonomian yang tangguh, berkesinambungan dan berwawasan lingkungan berdasarkan iman dan taqwa”.

Misi : “Memantapkan Kabupaten Karawang sebagai lumbung pangan yang berorientasi agri bisnis dan berwawasan lingkungan”.

Misi dijalankan dalam 3 program:

1. Meningkatkan produktivitas komoditi pertanian dan kehutanan yang memiliki daya saing dan nilai sosial ekonomi yang tinggi.

2. Mengembangkan kemitraan dan kewirausahaan pertanian dan kehutanan yang maju dan mandiri.

3. Meningkatkan partisipasi aktif dan pelayanan masyarakat dalam mengembangkan pertanian dan kehutanan.

Categories: lainnya

SEJARAH KARAWANG YANG TERTULIS DI MUSIUM PERJUANGAN INDONESIA

10 September 2007 79 komentar

sumber : Bupala

Pada zaman Kerajaan Padjadjaran yang dipimpin oleh Sri Baduga Maha Raja, Karawang merupakan salah satukota dari Pajajaran yang merupakan kota Pelabuhan di tepi Sungai Citarum. Bupati Pertama adalah Adipati Kertabumi IV yang dikenal Singaperbangsa yang secara turun temurun menjabat Bupati Karawang, pernah menjadi sebagai bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan Mataram dan pemerintah Hindia Belanda sampai datangnya kekuasaan Inggris. Pada masa Pemerintahan Inggris (tahun 1811-1816)

Kabupaten Karawang dihapuskan dan baru dihidupkan kembali sekitar tahun 1820 dan Bupati pertamanya R.A.A. Surianata. Sejarah kedudukan Ibu Kota Kabupaten Karawang adalah :

 
  1. Kabupaten Karawang dengan Ibu Kotanya di Karawang dari tahun 1653-1819 (166) tahun
  2. Kabupaten Karawang Ibukotanya di Wanayasa dari sekitar tahun 1820-1830 (10) tahun
  3. Kabupaten Karawang dengan Ibukotanya di Purwakarta dari tahun 1830-1449.Melalui keputusan Wali Negara Pasundan tanggal 29 Januari 1949 Nomor 12 Kabupaten Karawang dipecah menjadi 2
  4. yaitu Karawang Barat dengan Ibu Kota Karawang dan Karawang Timur menjadi Kabupaten Purwakarta dengan Ibu kota di Subang
  5. Dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Kabupaten dalam lingkungan Propinsi Jawa Barat tahun 1950. Karawang secara resmi dinyatakan sebagai Kabupaten yang berdiri sendiri dengan Ibukota di Karawang

Saat ini Kabupaten Karawang dibagi atas 3 Kewedanaan, 12 Kecamatan dan 112 Desa dan ditetapkan bahwa Kabupaten Karawang didirikan pada tahun 1633 Masehi. Sekarang Karawang telah terbagi menjadi 30 Kecamatan dan terdiri dari 309 Desa.

Categories: lainnya

Pelat Kuningan Kandang Sapi Gede

10 September 2007 Tinggalkan Komentar

sumber : Bupala

Jabatan Wiraperbangsa sebagai Wedana di Karawang kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama Raden Singaperbangsa yang di anugrahi gelar Adipati Kertabumi IV memerintah di Karawang pada tahun 1633-1677. tugas pokok Raden Singaperbangsa di awal kepemimpinannya adalah mengusir VOC (Belanda) di Batavia.
Untuk itu, Raden Singaperbangsa membangun pesawahan untuk kebutuhan logistik semasa perang. Selain itu, Raden Singaperbangsa juga mendapat tambahan 2000 keluarga.
Pembangunan pusat logistik dan pesawahan demi memenuhi kebutuhan logistik perang itu tersurat dalam “Piagam Pelat Kuning Kandang Sapi Gede” yang bunyinya adalah sebagai berikut; “panget ingkang Piagam Kanjeng ing Ki Rangga Gede ing Sumedang kagadehaken ing si Astrawardana. Mulane sun gdehi peagem, sun kongkon anggraksa kaagengan dalem siti Nagara Agung, kilen waten Cipamingkis, wetan wates Cilamaya, serta kon anunggoni lumbung isina Pun Pari Limang tkes punjul tiga welas jait. Basakala tan anggrawahani piagem, lagi lampahipan Kyai Yudha-bangsa kaping kalih ki wangsa Taruna, ingkang potusan Kanjeng Dalem Ambakta tata titi yang kalih ewu;
Wadana nipun Kyai Singaperbangsa, kalih ki Wirasaba kang dipunwadanahakeun ing manir. Sasangpun katampi dipunrenahakeun Waringinpitu lan ing Tanjungpura,
anggraksa siti NagaraGung Bongan Kilen, kala nulis piagem ing dina rebo tanggal ping sapuluh sasi Mulud tahun alif. Kang anulis piagem manira anggaprana titi”.
Terjemahan isi piagam tersebut didalam bahasa Indonesia adalah; “Peringatan piagam Raja kepada Ki Ranggagede di Sumedang diserahkan kepada Si Astrawardana. Sebabnya maka saya serahi piagam, ialah karena saya berikan tugas menjaga tanah negara agung di sebelah timur berbatas Cilamaya, serta saya tugaskan menunggu lumbung berisi Padi lima takes lebih tiga welas jahit. Adapun padai tersebut diterima oleh Ki Singaperbangsa,
baskalatan yang menyaksikan piagam dan kedua Ki Wangsataruna yang diutus oleh Raja untuk pergi dengan membawa 2000 keluarga. Pimpinannya adalah Kyai
Singaperbangsa serta Ki Wirasaba. Sesudah piagam diterima, kemudian mereka ditempatkan di Waringinpitu dan di Tanjungpura. Tugasnya adalah menjaga tanah nagara agung di sebelah barat. Piagam ini ditulis pada hari Rabu tanggal 10
bulan Mulud tahun Alif. Yang menulis piagam ini ialah saya, Anggaprana. Selesai”.
Demikian isi ‘Piagam Pelat Kuningan Kandang Sapi Gede’ yang dibuat pada tanggal 10 bulan Mulud tahun Alif
atau hari Rabu tanggal 10 Rabi’ul awal tahun 1043 hijriah, yang bertempatan dengan tanggal 14 September 1633 Masehi dan pada hitungan tahun Jawa/Saka adalah hari Rabu tanggal 10 Mulud 1555.
Tanggal yang tercantum dalam isi Piagam Pelat Kuningan Kandang Sapi Gede kemudian dijadikan sebagai “Hari Jadi Kabupaten Karawang”. Penetapan tanggal itu berdasarkan hasil penelitian panitia sejarah yang dibentuk dengan surat Keputusan Bupati Kepala daerah Tingkat II
Karawang, Letkol (inf) H. Husni Hamid dengan SK-nya nomor 170/PEM/H?SK/1968 pada tanggal 1 Juni 1968. adapun bukti hasil penelitian dan pengkajian itu terdapat dalam tulisan para pakar sejarah yakni; Dr. Brenes dalam “Tyds Taal Land en Volkenkude’ XXVIII halaman 352, 355 yang menetapkan tahun 1633 sebagai tahun jadinya Karawang.
Ada juga tulisan ilmuwan Dr. R. Asikin Wijayakusumah dalam “tyds Taalland en volkenkunde’ XXVIII 1937 afl. 2, halaman 188-200 Tyds Batavisch Genot schap DI. 77, 1937 halaman 178-2005 yang menetapkan tahun 1633 sebagai tahun jadi Karawang.
Begitu pula tertulis pada batu nisan makam Penembahan Kyai Singaperbangsa di Manggung Ciparage desa Manggungjaya Kecamatan Cilamaya yang bertuliskan angka 1633-1677 dalam huruf latin dan tulisan Mas Sutakarya berjudul babd Karawang yang menetapkan tahun 1633 sebagai tahun jadi Karawang

Categories: lainnya

Perang Mataram-Banten

10 September 2007 3 komentar

 sumber : Bupala

Kerajaan Padjajaran runtuh pada tahun 1579 M. Pada tahun 1570 M kerajaan Sumedang Larang berdiri sebagai penerus kerajaan Padjajaran dengan rajanya yang bernama Prabu Geusan Ulun, putra pasangan Ratu Pucuk Umum (disebet juga Pengeran istri) deingan Pangeran Santri

keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon. Kerajaan Ilam Sumedang Larang, pusat pemerintahannya berada di Dayeuh Luhur membawahi Sumedang, Galuh, Limbangan, Sukakerta dan Karawang. Prabu Geusan Ulun wafat pada tahun 1608, dan digantikan oleh putranya Rangga Gempol Kusumahdinata, putra Prabu Geusan Ulun dari istrinya
Harismaya keturunan Madura.
Pada masa itu di Jawa Tengah telah berdiri kerajaan Mataram dengan rajanya Sultan Agung (1613-1345) yang
bercita-cita ingin menguasai Pulau Jawa dan mengusir Kompeni (Belanda) dari Batavia.
Demi menjaga keselamatan wilayah kekuasaan Mataram di daerah Barat, pada tahun 1628 dan 1629, Sultan Agung melakukan penyerangan terhadap VOC (Belanda) di Batavia. Namun gagal sehubungan situasi medan yang sangat berat dan berjangkitnya penyakit Malaria serta karena kurangnya kebutuhan logistik.
Dengan kegagalan tersebut, Sultan Agung mencari strategi penyerangan terhadap kompeni dan menunjuk Karawang sebagai pusat logistik yang mempunyai pemerintahan sendiri dibawah kekuasaan Mataram dan dikomandani oleh seorang pemimpin yang cakap dan ahli perang serta mampu menggerakkan masyarakat untuk membangun pesawahan guna mendukung pengadaan
Logistik dalam persiapan melakukan penyeragan kembali terhadap VOC (Belanda) di Batavia.
Tahun 1632, Sultan Agung mengutus Wiraperbangsa Sari Galuh untuk membawa 1000 prajurit beserta keluarganya ke Karawang. Tujuan pasukan yang dipimpin oleh Wiraperbangsa adalah selain membebaskan pengaruh Banten di Karawang juga untuk mempersiapkan kebutuhan logistik sebagai bekal melakukan penyerangan kembali terhadap VOC (Belanda) di Batavia.
Tugas yang diemban Wiraperbangsa dapat dilaksanakan dengan baik. Hasilnya bahkan sempat dilaporkan kepada Sultan Agung di Mataram. Atas keberhasilannya, Wiraperbangsa dianugerahi jabatan Wedana (sekarang tingkat Bupati) di Karawang dan mendapat gelar Adipati Kertabumi III serta diberi hadiah senjata berupa sebilah Keris yang bernama “Karo sinjang”.

Setelah penganugerahan dilakukan di Mataram, Wiraperbangsa melanjutkan kembali tugasnya dan melakukan perjalanan ke Karawang. Namun takdir illahi berkata lain. Saat singgah sementara untuk menjenguk keluarganya di Galuh, Wiraperbangsa keburu wafat.

Categories: lainnya
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.