Nasib Anak Jalanan

Michael Todaro Mengatakan bahwa ” Ciri negara berkembang salah satunya ditunjukkan dengan semakin banyaknya kawasan kumuh dan gelandangan di perkotaan” nah di Indonesia ini tampaknya pemandangan itu sudah biasa, bahkan ada satu kampung di tanah jawa yang semua penduduknya bermata pencaharian sebagai Gelandangan dan Pengemis atau disingkat “Gepeng”.

Karawang salah satu kota yang menjadi sasaran urban para keluarga yang memang sengaja mengais rejeki dengan cara seperti itu, pada suatu malam (sekitar jam 23.00) saya menemukan seorang anak balita (berusia sekira 4 tahun) sedang mengamen di pintu perlintasan kereta api di jalur Kota, sungguh menyedihkan jika saja memikirkan nasib mereka dimasa depan, mereka menjadi korban dari ketimpangan ekonomi dan pembangunan daerah sehingga terpaksa menjadi pengamen jalanan

Apa yang harus dilakukan oleh pemerintah dan kita sebagai warga masyarakat, membiarkan semua ini terus terjadi sehingga generasi muda yang akan datang menjadi beban yang berat bagi pembangunan, atau mengambil alternatif pilihan untuk menghentikan praktek seperti ini dengan cara pemberdayaan dan pendidikan ? semestinya pemerintah memiliki cara-cara yang lebih arif untuk menuntaskan persoalan ini secara komprehensif

Produktivitas Pertanian di Karawang

Perlukah Industrialisasi di Sektor Pertanian ?

Pertanian di Kabupaten Karawang yang selama ini masih dinilai kurang menunjukkan perkembangan yang lebih baik, artinya produktivitas pertanian masih rendah jika dibandingkan dengan sektor lainnya, hal ini menyebabkan kebutuhan pengadaan pangan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional tidak jarang pula menjadi terhambat bahkan tidak mencukupi, beberapa kasus yang menunjukkan bagaimana pemerintah mengambil kebijakan impor beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

rontok padi

sumber Photo : Tempo Interaktif 

Lihat saja pola konvensional yang masih dijalankankan oleh petani, pada saat perontokkan gabah ketika panen umumnya petani masih memakai pola konvensional dengan sistem “gebot” sementara teknologi belum diterapkan, padahal berdasarkan pengalaman di ketahui bahwa cara ini cenderung menyebabkan kehilangan gabah sebesar 20 persen tiap hektar terjadi pada saat proses perontokkan. Hal ini sebenarnya dapat di antisipasi jika masyarakat mulai menerapkan teknologi sederhana dalam upaya meminimalisir tingkat kehilangan gabah pada saat proses perontokan

 

 

Waspadai Banjir di Awal Tahun 2008

Tampaknya Karawang harus ekstra hati-hati menghadapi musim penghujan di akhir tahun 2007 dan awal tahun 2008, berdasarkan pengalaman biasanya banjir yang terjadi di Karawang selalu pada menjelang tahun baru atau awal tahun, ini seperti menjadi “agenda tetap” banjir tahunan yang melanda pemukiman sepanjang aliran sungai Cibe’et dan Citarum.

Tampaknya selama ini kita masih disibukkan dengan rencana pengamanan dan evakuasi korban banjir, dan beberapa simulasi dalam rangka menghadapi kemungkinan banjir setidaknya telah dilaksanakan, bahkan di bentuk team evakuasi dan para relawan dari berbagai organisasi untuk ikut terjun menyelamatkan dan membantu para korban banjir, tetapi hingga saat ini upaya untuk mencegah terjadinya banjir masih jarang di lakukan, seperti misalnya sosialisasi bagaimana menjadikan hutan di hulu sungai dan sekitar hutan tidak gundul dengan program penanaman kembali hutan, atau upaya untuk tidak menjadikan daerah resapan air sebagai objek pembangunan pemukiman dan bisnis, hal yang paling sederhana adalah membiasakan masyarakat untuk mulai menyadari pentingnya membuat resapan air di halaman rumah dan menjaga kali tetap berfungsi atau tindakan lain yang secara komprehensif bisa mencegah datangnya banjir.

Karawang adalah jalur yang rawan terjadi banjir, karena terdapat dua aliran sungai besar yang melintang yaitu Cibe’et dan Citarum, sementara di hulu sungai dan beberapa anak sungai yang mengalirkan air dari hutan dan pegunungan sedikitnya telah berkurang atau bahkan beralih fungsi, kemudian di daerah hilir sungai yang terkadang dijadikan objek penggalian pasir yang mengakibatkan terjadinya pendangkalan sungai, seperti yang terjadi di Desa Telukbuyung Kecamatan Pakisjaya Karawang, dimana sungai Citarum menjadi semakin lebar karena terjadi longsoran tanah darat yang disebabkan oleh aktivitas penyedotan pasir yang hingga saat ini tetap berlangsung, diperkirakan telah terjadi pendangkalan dasar sungai di daerah ini, dampaknya apabila debit air bertambah sementara di bagian hilir terjadi pendangkalan bukan tidak mungkin air akan meluap dan menjebolkan kembali tanggul di sepanjang sungai seperti yang terjadi pada banjir tahun 2007 yang lalu.

Jadi mulai dari sekarang kita harus lebih waspada…….persiapkan diri kita dan keluarga untuk menyelamatkan diri dan harta benda dari ancaman banjir yang bukan tidak mungkin akan lebih parah dari tahun sebelumnya…….